Blended Learning itu apa sich?

Blended learning merupakan salah satu isu pendidikan terbaru dalam perkembangan globalisasi dan teknologi. Secara sederhana blended learning sering diartikan sebagai  pencampuran, atau penggabungan antara satu pola pembelajaran dengan pola pembelajaran yang lainnya. Selain blended learning ada istilah lain yang sering digunakan dan mempunyai makna sama. Watson et al (2013:8), Mainnen (2008) (dalam Rusman et al, 2011:242), Kitchenham (2011: xiv) dan  Sukarno (2011),  menyebutkan “blended learning mempunyai beberapa nama alternatif yaitu mixed learning, hybrid learning, blended blended e-learning dan melted learning. Istilah–istilah ini mengandung arti yang sama yaitu perpaduan, percampuran atau kombinasi pembelajaran. Namun istilah yang lebih sering dikemukakan adalah blended learning.

Baca lebih lanjut

Blended Learning, Model Pembelajaran Abad 21 di Perguruan Tinggi.

Abstrak

Pesatnya arus globalisasi serta perkembangan TIK di abad 21 ini, menuntut perubahan sikap dan pola pikir guru dan dosen serta LPTK. Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)  berpengaruh sangat besar kepada peserta didik. Pendekatan yang baik adalah mengitegrasikan teknologi dengan pendidikan melalui model blended learning (MBL), yaitu pembelajaran yang menggabungkan kegiatan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online. Kelebihan MBL adalah meningkatkan interaksi antara peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik, dan peserta didik dengan berbagai sumber belajar, kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini bisa meningkatkan kualitas pembelajaran dan sesuai dengan pembelajaran abad 21.

PENDAHULUAN

Teknologi Informasi dan Komunikasi selanjutnya disingkat TIK menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan. Teknologi seperti ponsel dan jaringan sosial daring (online) seperti Facebook dan twitter telah mengubah secara revolusioner cara manusia berkomunikasi. Mesin pencari internet seperti Google dan Yahoo juga telah mengubah secara revolusioner cara manusia mencari informasi. Sehingga Eggen dan Kauchak (2012:27) mengemukakan bahwa melek (literasi) teknologi telah menjadi keahlian dasar yang penting setelah membaca, menulis dan berhitung.

Pengaruh TIK  sangat besar kepada peserta didik. Teknologi adalah sesuatu yang ingin dikuasai peserta didik. Mereka menggunakan internet, ponsel dan mengirim SMS seperti makanan sehari-hari. Banyak peserta didik sudah menggunakan media sosial Facebook dan twitter. Artinya peserta didik sekarang sangat melek teknologi, namun tidak demikian dengan gurunya. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara peserta didik dan pendidik yang tidak menggunakan teknologi di ruang kelas mereka. Pendekatan yang baik adalah mengitegrasikan teknologi dengan pendidikan dan menghilangkan segala kesenjangan yang ada. Dengan mengenali minat peserta didik dan memanfaatkan minat-minat itu, hubungan pendidik-peserta didik dapat meningkat.

Baca lebih lanjut