Buya

Saya baru saja selesai membaca dua  tulisan yang sangat menarik di situs kampus saya bekerja. Judul tulisan pertama adalah ” Buya dan Kapal IAIN”, tulisan  satunya dengan judul “diskusi tentang tulisan pak dekan-Buya dan KApal IAIN”. Tulisan yang kedua ini merupakan tanggapan dari tulisan yang pertama.

Menarik isinya, karena berhubungan dengan contoh teladan. Contoh teladan itu sangat idektik dengan pimpinan. Tulisan pertama menyoroti kenapa civitas IAIN merasa “segan” dengan sebutan buya. Sebetulnya tulisan ini panjang, tetapi saya lebih tertarik menanggapi topik tentang buya saja. Sedangkan topik tentang “kapal”  dibahasnya lain ali saja, karena membahas “kapal IAIN” sama seperti saya membahas kapalnya Indonesia dan saya rasa sudah banyak pakar yang lebih kompeten membahas “kapal” tersebut.

Baca lebih lanjut

Pikir itu pelita hati

Profesor saya mengatakan pada suatu pertemuan kuliah “jangan dengarkan semua perkataan orang, tapi buatlah keputusan yang mewakili kepentingan semua orang”. Awalnya kami tertawa mendengarkan ucapan profesor tersebut, manun sesaat kami terdiam, benar juga. Selama ini kita selalu mendengarkan perkataan orang, atau kita belum melakukan apa sudah minta pendapat banyak orang. Akhirnya kita jadi ragu untuk memutuskan, mana yang benar dari semua perkataan orang yang kita dengar. Contoh yang sering kita lihat, jika ada suatu kegiatan kita akan banyak pertimbangan. Saya rasa ini sering terjadi bagi ibu-ibu yang rangkap jabatan, artinya kerja kantoran sekaligus ibu rumah tangga. Yang dipikirkan pertama kali adalah “bagaimana dengan anak saya jika kegiatan ini saya ambil?” akhirnya sebagai pertimbangan kita minta pendapat semua orang. Eh masalah muncul jika orang yang kita mintai pendapat juga punya kepentingan dengan kegiatan tersebut. Maka makin galaulah kita dalam mengambil keputusan.

Kembali ke ungkapan profesor saya tadi, jangan terlalu banyak mendengarkan orang, artinya dalam mengambil keputusan, cukup kita bertanya pada orang yang benar-benar dekat dengan kita dan mengerti bagaimana kita. Lalu buatlah keputusan yang terbaik bagi kita dan melegakan semua pihak yang akan berkaitan dengan kita.

Berlatih sabar

Hidup ini harus punya perencanaan. rencana-rencana dalam hidup itu akan membuat aktivitas kita menjadi terjadwal, teratur dan terukur. Namun ada satu hal yang mesti selalu kita ingat; kita hidup di dunia yang bukan punya kita. Ada kalanya semua rencana yang sudah kita susun dengan baik akhirnya menjadi berantakan. Misalnya mau pergi ke kantor, eh tiba-tiba anak sakit atau hal-hal lainnya. Rencana kita jadi batalkan?. Perlu kesabaran menghadapi rencana tidak berjalan sesuai dengan harapan ini. Jadi dalam dalam membuat setiap rencana, harus selalu disisipkan sebuah Alarm, bahwa semua yang kita rencanakan, bisa terlaksana atau tidaknya itu keputusan dari Pemilik Dunia ini, yaitu Allah. Kata pepatah lama; rencana di tangan kita keputusan ditangan Tuhan, itu suatu manifestasi dari ketawakalan seorang hamba untuk melatih kesabarannya. Mudah menuliskan dan mengucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Menjadi orang sabar ditengah hiruk pikuk dunia saat ini menjadi sangat sulit. ..maka berbahagialah orang-orang yang bersabar dan bertawakal menerima ketentuan Allah…