Blended Learning itu apa sich?

Blended learning merupakan salah satu isu pendidikan terbaru dalam perkembangan globalisasi dan teknologi. Secara sederhana blended learning sering diartikan sebagai  pencampuran, atau penggabungan antara satu pola pembelajaran dengan pola pembelajaran yang lainnya. Selain blended learning ada istilah lain yang sering digunakan dan mempunyai makna sama. Watson et al (2013:8), Mainnen (2008) (dalam Rusman et al, 2011:242), Kitchenham (2011: xiv) dan  Sukarno (2011),  menyebutkan “blended learning mempunyai beberapa nama alternatif yaitu mixed learning, hybrid learning, blended blended e-learning dan melted learning. Istilah–istilah ini mengandung arti yang sama yaitu perpaduan, percampuran atau kombinasi pembelajaran. Namun istilah yang lebih sering dikemukakan adalah blended learning.

Banyak institusi atau praktisi yang telah mengembangkan dan memberikan definisi dengan bahasa mereka sendiri, sesuai dengan praktek blended learning itu sendiri. Innosight Institute (dalam Horn and Staker,  2011:3, dan Staker, 2011:5) memberikan definisi umum  “Blended learning is any time a student learns, at least in part, at a supervised brick-and-mortar location away from home and, at least in part, through online delivery with some element of student control over time, place, path and/or pace”. Definisi ini sama  dengan definisi blended learning dari  Christensen Institute (dalam Watson et al, 2013:9), “blended learning as a formal education program in witch a student learns at least in part through online learning, with some element of student control over time, place, path, and/or pace; at least in part in a supervised brick-and-mortal location away from home; and the modalities along each student’s learning path within a course or subject are connected to provide an integrated learning experience. Definisi dari dua institusi ini menyatakan blended learning sebagai program pendidikan formal, dimana seorang peserta didik pada sebagian waktu mengikuti kegiatan belajar tatap muka di sekolah dan sebagian waktu lagi belajar secara online di mana waktu, tempat, dan cara belajar online-nya ditentukan oleh peserta didik.

Garrison & Vaughan (2008:5) menyatakan “blended learning is the thoughtful fusion of face-to-face and online learning experiences”, artinya blended learning merupakan gabungan pengalaman belajar tatap muka dan online. Menurut  Semler (2005) Blended learning combines the best aspects of online learning, structured face-to-face activities, and real world practice. Online learning systems, classroom training, and on-the-job experience have major drawbacks by themselves. The blended learning approach uses the strengths of each to counter the others’ weaknesses. Whitelock & Jelfs (2003), memberikan tiga pengertian untuk  blended learning, yaitu : a). The integrated combination of traditional learning with web-based online approaches; b) The combination of media and tools employed in an e-Learning environment; dan c). The combination of a number of pedagogic approaches, irrespective of learning technology use.

Menurut Driscoll (2002) blended learning merujuk pada 4 (konsep) konsep yang berbeda yaitu:

  1. Blended learning: combining or mixing web-based technology to accomplish an educational goal (kombinasi atau gabungan berbagai teknologi berbasis web, untuk mencapai tujuan pendidikan).
  2. Blended learning: combining pedagogical approaches (‘e.g.constructivism, behaviorism, cognitivism’) to produce an optimal learning outcome with or without instructional technology; (kombinasi dari berbagai pendekatan pembelajaran, seperti behaviorisme, konstruktivisme, kognitivisme, untuk menghasilkan suatu  pencapaian pembelajaran yang optimal dengan atau tanpa teknologi pembelajaran.
  3. Blended learning: combining any form of instructional technology with face-to-face instructor-led Training (kombinasi banyak format teknologi pembelajaran dengan pembelajaran tatap muka).
  4. Blended learning: combining instructional technology with actual job task (kombinasi teknologi pembelajaran dengan perintah tugas kerja aktual).

Graham (2005:4) menyebutkan definisi Blended learning yang paling sering dikemukakan, adalah:

  1. Combining instructional modalities or delivery media and technologies (tradisional distance educational, internet, Web, CD ROM, video/audio, any other electronic medium , email, online books, etc) (blended learning sebagai kombinasikan berbagai modalitas media pembelajaran),
  2. Combining instructional methods, learning theories, and pedagogical dimensions (blended learning sebagai kombinasikan berbagai metode-metode pembelajaran, teori belajar, dan dimensi pedagogis);
  3. Combining blended e-learning and face-to-face learning (blended learning sebagai kombinasikan antara pembelajaran online  dengan   pembelajaran tatap muka).

Rusman (2011: 244-245) menyatakan blended learning sebagai kombinasi atau pengabungan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran elektronik atau e-learning. Kombinasi pendekatan aspek e-learning berupa web-based instruction, video streaming, audio, komunikasi synchronous dan asynchrounous dengan pembelajaran tatap muka, termasuk juga metode mengajar, teori belajar, dan dimensi pedagogik.

Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan di atas maka dapat juga dikatakan, blended learning sebagai pembelajaran yang menggabungkan kegiatan belajar tatap muka dengan kegiatan belajar online  baik dari aspek teori belajar, pendekatan, untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Rujukannya???

cantumkan alamat blog ini ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s