Blended Learning, Model Pembelajaran Abad 21 di Perguruan Tinggi.

Abstrak

Pesatnya arus globalisasi serta perkembangan TIK di abad 21 ini, menuntut perubahan sikap dan pola pikir guru dan dosen serta LPTK. Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)  berpengaruh sangat besar kepada peserta didik. Pendekatan yang baik adalah mengitegrasikan teknologi dengan pendidikan melalui model blended learning (MBL), yaitu pembelajaran yang menggabungkan kegiatan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online. Kelebihan MBL adalah meningkatkan interaksi antara peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik, dan peserta didik dengan berbagai sumber belajar, kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini bisa meningkatkan kualitas pembelajaran dan sesuai dengan pembelajaran abad 21.

PENDAHULUAN

Teknologi Informasi dan Komunikasi selanjutnya disingkat TIK menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan. Teknologi seperti ponsel dan jaringan sosial daring (online) seperti Facebook dan twitter telah mengubah secara revolusioner cara manusia berkomunikasi. Mesin pencari internet seperti Google dan Yahoo juga telah mengubah secara revolusioner cara manusia mencari informasi. Sehingga Eggen dan Kauchak (2012:27) mengemukakan bahwa melek (literasi) teknologi telah menjadi keahlian dasar yang penting setelah membaca, menulis dan berhitung.

Pengaruh TIK  sangat besar kepada peserta didik. Teknologi adalah sesuatu yang ingin dikuasai peserta didik. Mereka menggunakan internet, ponsel dan mengirim SMS seperti makanan sehari-hari. Banyak peserta didik sudah menggunakan media sosial Facebook dan twitter. Artinya peserta didik sekarang sangat melek teknologi, namun tidak demikian dengan gurunya. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara peserta didik dan pendidik yang tidak menggunakan teknologi di ruang kelas mereka. Pendekatan yang baik adalah mengitegrasikan teknologi dengan pendidikan dan menghilangkan segala kesenjangan yang ada. Dengan mengenali minat peserta didik dan memanfaatkan minat-minat itu, hubungan pendidik-peserta didik dapat meningkat.

Pada era TIK seperti sekarang, peserta didik yang akan dihadapi adalah peserta didik yang lahir dan berkembang di era digital, maka suka tidak suka, mau tidak mau guru pun harus memiliki literasi teknologi yang tinggi. Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) sebagai lemabaga penghasil calon pendidik/guru perlu membekali guru dan calon guru untuk terampil menggunakan teknologi terutama TIK, karena tantangan guru masa depan berkaitan dengan TIK.  Eggen dan Kauchak (2012:27-28) menegaskan bahwa standar untuk sekolah abad 21 atau abad digital untuk guru dan siswa berkaitan dengan penerapan teknologi dalam pembelajaran. Guru harus bisa mempersiapkan siswanya untuk hidup di abad digital, salah satunya menggunakan pengetahuan mereka tentang materi pelajaran, pembelajaran dan teknologi untuk memfasilitasi pengalaman yang dipelajari siswa tingkat lanjut, kreativitas, dan inovasi dalam situasi tatap muka dan virtual.   Salah satu cara yang dapat dilakukan guru/dosen untuk peningkatan layanan dalam situasi tatap muka dan virtual (online) melalui Model Blended Learning, yang selanjutnya disingkat dengan MBL.

—————————

Tulisan ini sudah terbit dalam Jurnal Ta’dib. Jurnal Ilmu Pendidikan. Volume 17, Nomor 2, hal-126-136, Desember 2014.

Jika ingin membacanya nanti akan di bagi dalam blog ini.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s