KEIKHLASAN YANG MENGUNTUNGKAN MUKMIN SEJATI

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas mentaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar) Q.S. Al-Bayyinah, 98:5.

Untuk mendapatkan keikhlasan sejati, seseorang pertama harus memahami mengapa keikhlasan itu penting. Ia harus memiliki keinginan untuk mendapatkan tingkat keikhlasan tersebut. Hal ini karena siapa pun yang gagal memahami keikhlasan, ia akan mencari kekuatan dan kekuasaan dengan hal-hal yang bersifat keduniawian. Ia akan mengejar dunia untuk mendapatkan martabat sosial. Orang seperti itu mencari ketenaran, reputasi, kemuliaan, kekayaan, kecantikan, ijazah pendidikan, dan kehormatan lainnya. akan tetapi, tidak ada satu pun hal di atas yang dapat memberikan kekuatan dan kekuasaan yang sesungguhnya, tidak d dunia ini atau pun di Hari Akhir.

#BadiuzzamanSaidNursi.

Al-Qur’anulkarim-MiracleTheReference

Biologi Sebagai Ilmu

By Milya Sari, S.Pd., M.Si

  1. Pengantar

Materi biologi sebagai ilmu pengetahuan membahas tentang cakupan kajian biologi. Topik ini akan membahas tingkat organisasi di alam, dari atom hingga biosfer. Pembelajaran tentang struktur, fungsi atom, dan molekul akan memandu kita untuk memahami struktur sel hidup. Pembelajaran tentang proses yang membuat satu sel tetap hidup dapat membantu kita memahami bagaimana organisme multisel bertahan, karena semua sel hidup menggunakan proses yang sama. Dengan mengetahui apa yang organisme gunakan untuk bertahan hidup, dapat membantu kita melihat mengapa dan bagaimana mereka berinteraksi dengan organisme lain dan lingkungannya. Bagaimana cara ilmuwan biologi bekerja? Dengan cara apa bisa mengetahui atau melahirkan berbagai cabang kajian biologi?, Salah satunya dengan menggunakan metoda ilmiah.

Baca lebih lanjut

Pentingnya penguasaan Ilmu Pengetahuan (sains) dan Teknologi bagi lulusan PTAI

Sesungguhnya ilmu  pengetahuan  mesti  didahulukan  atas  amal perbuatan,  karena  ilmu  pengetahuanlah yang mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil dalam keyakinan umat  manusia; antara  yang  benar  dan yang salah di dalam perkataan mereka; antara perbuatan-perbuatan yang  disunatkan dan  yang bid’ah dalam  ibadah; antara yang benar dan yang tidak benar di dalam melakukan muamalah; antara tindakan yang  halal  dan  tindakan yang  haram; antara yang terpuji dan yang hina di dalam akhlak manusia; antara ukuran yang diterima dan ukuran yang  ditolak;  antara  perbuatan  dan  perkataan  yang bisa diterima dan yang tidak dapat diterima. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui apa yang mesti didahulukan dan apa yang harus diakhirkan.  Tanpa ilmu pengetahuan kita akan kehilangan arah, dan melakukan tindakan yang tidak karuan.

Oleh karena itu, Imam  Hasan  al-Bashri  memperingatkan “Orang yang beramal tetapi tidak disertai dengan ilmu pengetahuan tentang itu, bagaikan orang yang melangkahkan kaki tetapi tidak meniti jalan yang benar. Orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia akan membuat kerusakan yang lebih banyak daripada perbaikan yang dilakukan. Carilah ilmu selama ia tidak mengganggu ibadah yang engkau lakukan. Dan beribadahlah selama ibadah itu tidak mengganggu pencarian ilmu pengetahuan.

Seseorang  ulama tidak boleh memberikan fatwa kepada manusia kecuali dia seorang yang  betul-betul ahli  dalam  bidangnya, dan memahami ajaran agamanya. Jika tidak, maka  dia  akan mengharamkan yang halal dan menghalalkan hal-hal yang haram. Setiap juru da’wah (da’i) harus  melandasi da’wahnya dengan hujjah yang nyata. Artinya, da’wah yang dilakukan olehnya mesti jelas, berdasarkan    kepada hujjah-hujjah yang jelas pula. Dia  harus  mengetahui akan dibawa ke mana orang yang dida’wahi olehnya?  Siapa  yang  dia ajak? Dan bagaimana cara dia berda’wah? Pengajaran itu dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan kondisi dan kemampuan orang yang   diajarnya,   sehingga   dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit.

Persoalan yang perlu diperhatikan oleh  orang  yang  bergerak dalam bidang da’wah dan pendidikan ialah bahwa juru da’wah dan pendidik itu mesti mengambil jalan yang paling mudah dan bukan jalan yang susah; memberikan kabar gembira dan  tidak menakut-nakuti mereka; sebagaimana disebutkan dalam  sebuah hadits   yang  disepakati  ke-shahih-annya  oleh  Bukhari  dan Muslim, “Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari.”.

Al-Hafizh ketika memberikan  penjelasan  terhadap  hadits  ini mengatakan, Di  antara  keharusan  yang  berlaku di dalam ilmu pengetahuan ialah upaya untuk mencari  ilmu-ilmu  agama  sejauh  kemampuan yang  dimiliki  oleh  seseorang, sesuai dengan kadar kemampuan otaknya untuk menerima ilmu pengetahuan tersebut. Dia  tidak boleh mengucapkan  sesuatu  yang  tidak  cocok  dengan  akal pikirannya, sehingga hal itu  malah  berbalik  menjadi  fitnah bagi dirinya dan juga kepada orang lain. Sehubungan dengan hal ini Ali r.a. berkata, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan  kadar  pengetahuan  mereka.  Tinggalkan apa yang tidak cocok dengan akal pikiran mereka.  Apakah  engkau  menghendaki mereka mengatakan sesuatu yang bohong terhadap  Allah dan rasul-Nya?”

Ada banyak materi dalam mata kuliah IAD yang membuka cakrawala mengapa sesuatu itu haram dan halal. Misalnya tentang bayi tabung, mengapa ulama sepakat hal ini dibolehkan dan dalam batasan yang bagaimana? Seseorang akan bisa mengatakan halal dan haram jika mempunyai ilmu tentang hal tersebut. Begitu juga dengan banyaknya masalah lingkungan yang terjadi disekitar kita. Para da’i dan guru agama pun bisa berperan penting dalam usaha menjaga lingkungan hidup. Tapi peran tersebut akan terlaksana dengan baik jika mereka punya ilmu tentang sunatullah yang terjadi dialam. Itulah diantara banyak alasan mengapa mahasiswa PTAI  perlu mendapatkan materi perkuliahan ini.

Mengapa dan untuk apa kita mempelajari alam

Mempelajari Ilmu pengetahuan alam (sains) dan teknologi (Iptek) secara mendalam bukan berarti membawa kita menuju ateisme. Namun sebaliknya, semakin kita mempelajari Iptek, semakin kita yakin akan adanya ‘Yang Maha Mengatur” segala ketertiban di alam raya ini. Ajaran Islam sendiri, menyuruh kita mempelajari ilmu aqliyah (Iptek), sebagaimana kita diwajibkan belajar ilmu naqliyah. Peningkatan imtag bisa dilakukan dengan penguasaan Iptek. Kedua bidang ini tidaklah berdiri sendiri ataupun bertolak belakang, tapi harus diintegrasikan. Dan integrasi imtag dan iptek bisa ditemukan pada matakuliah Ilmu Kealaman Dasar. Di era globalisasi sekarang ini kebangkitan suatu bangsa tidak mungkin akan terlaksana tanpa penguasaan sains dan teknologi.

Amatilah alam sekitar kita. Pada malam hari yang cerah dengan menggunakan indra mata, kita dapat melihat jutaan bintang dilangit, bagaikan permata yang berkelab-kelib. Apalagi jika kita menggunakan teropong atau teleskop bintang, kita dapat mengamati lebih jelas lagi keadaan makrokosmos disekitar kita. Dengan menggunakan mikroskop, kita bisa melihat kehidupan jasad renik (mikrokosmos) yang mungkin tidak pernah terbanyangkan bentuknya oleh kita selama ini.

Mengapa dan untuk apa kita mempelajari alam? Marilah kita merujuk kembali kepada salah satu riwayat berikut ini,  ”Pada suatu hari di waktu subuh, sudah lama Bilal melakukan azan di masjid Madinah, namun Nabi belum juga keluar dari dalam gubuknya. Maka pergilah Bilal menjelang beliau, karena cemas kalau-kalau beliau dalam sakit. Maka masuklah Bilal ke dalam. Didapatnya Nabi sedang duduk termenung dan pada matanya terkesan bekas menangis. Lalu Bilal bertanya: Ya Utusan Allah, mengapa engkau menangis? Padahal kalau pun ada kesalahanmu, baik dahulu maupun nanti, akan diampuni oleh Tuhan.”  Lalu Nabi menjawab: Hai Bilal, tengah malam telah datang kepadaku Jibril membawa wahyu Tuhan yang berbunyi:

 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau Menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran : 190-191).

 

“sengsaralah hai Bilal” ujar Nabi selanjutnya, bagi orang yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkan maksudnya.

Maka firman Ilahi dan ujaran Nabi itu, mengandung ajakan agar kita senantiasa merenungkan keadaan di sekeliling kita. Siapakah diantara sekian banyak umat Islam yang mampu membaca, memahami, manafsirkan  “ayat-ayat Allah” yang berkaitan dengan fenomena alam ini? Padahal dalam Al-Qur’an  orang-orang seperti inilah yang dikatakan sebagai ulul albab yaitu kalangan yang beriman, bertaqwa dan mempunyai intelektual cemerlang sehingga mampu berkarya untuk kemaslahatan umat.

Satu fenomena paling memilukan yang dialami ummat Islam seluruh dunia saat ini adalah ketertinggalan dalam persoalan-persoalan Iptek. Padahal untuk kebutuhan kontemporer kehadiran bidang ini merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar. Terlebih Iptek yang dapat membantu serta mempermudah manusia di dalam memahami kekuasaan Allah dan melaksananakn tugas kekhalifahannya. Dalam hal ini, beberapa alasan dikemukakan guna mencari sebab-sebab ketertinggalan tersebut. Salah satunya pendapat bahwa keterbelakangan komunitas Muslim dalam Iptek karena umat Islam lalai dalam memahami serta mengamalkan ajaran agamanya, sementara Islam sendiri menganjurkan umatnya untuk menguasai Iptek.

Semakin seseorang itu mendalami Iptek, makin sadarlah ia akan adanya suatu ketertiban di dalam alam raya ini. Di  mana-mana ada aturan: hukum-hukum alam ciptaan Tuhan (sunnahtullah) yang tertib dan tak dapat dibantah kebenarannya. Kebenaran sunatullah inilah, kebenaran yang hakiki yang dicari dan dikejar oleh ilmuan. Kalau ada hukum suatu ilmu sebagai hasil penelitian kemudian ternyata tidak tepat, itu bukan sunatullahnya yang salah, tetapi kamampuan manusia yang belum sampai untuk memahami alam tersebut. Semakin manusia berusaha membaca, menerjemahkan alam ini, manusia semakin sadar akan keterbatasan ilmunya. Manusia hanya mampu mempelajari gejala-gejala alam itu, mencari kebenaran hukumnya, tetapi terbatas pada “sunatullah” yang sudah digariskan oleh Yang Maha Pengatur; yaitu Allah SWT

Jadi  mengapa dan untuk apa kita mempelajari alam? Pertama, karena sejak manusia dilahirkan ia memiliki sifat ingin tahu. Ia senantiasa bertanya: mengapa? Bukankah seorang anak kecil heran, ketika untuk pertama kali boneka yang terlepas dari tangannya, jatuh. Mengapa jatuh? Lama kelamaan ia menjadi terbiasa akan gejala alam itu. Bukankah sejak zaman dahulu, manusia telah biasa melihat benda-benda selalu jatuh “ke bawah”? Mungkin ada juga sementara ahli-ahli filsafat di waktu itu berusaha menemukan jawabannya. Sudah barang tentu, tidaklah percuma bila anak kecil sering bertanya : mengapa?

Rahasia “jatuhnya ke bawah” itu baru terungkap dalam abad ke 17. Isaac Newton, seorang ahli matematika  dan fisika bangsa Inggris yang hidup tahun 1642-1727, membuka tabir rahasia itu. Ia mengemukakan teorinya yang sangat terkenal, yaitu Teori gravitasi.  Benda itu jatuh karena gaya gravitasi bumi  atau gaya tarik bumi. Bumilah yang menarik benda itu ke bawah. Dengan teori gravitasi itu, dapat pula kemudian diterangkan, mengapa bumi mengelilingi matahari, bulan mengelilingi bumi dan sebagainya.

Bukankah segala sesuatu di dalam alam ini teratur? Matahari terbit dan terbenam secara teratur. Musim hujan dan musim kemarau saling bergantian dari tahun ke tahun. Begitu pula planet-planet tatasurya kita mengedari matahari menurut lintasannya masing-masing secara teratur pula. Semua peristiwa alam yang serba teratur itu sudah barang tentu ada yang mengaturnya. Dia-lah Allah Maha Pencipta, Ditetapkannya segala yang ada di alam dengan aturan-aturannya (Sunatullah) sehingga semuanya menjadi serba teratur.

Sifat ingin tahu yang seperti Newtonlah diantaranya yang mendorong seseorang mempelajari ilmu alam. Bukanlah Allah telah Menciptakan alam semesta itu untuk kepentingan umat manusia? Allah mentakdirkan kita menjadi makhluk yang paling mulia, bukan? Ia telah menyerahkan alam yang serba indah dan teratur itu kepada manusia agar suka menyelidiki semua rahasia-rahasianya dan pandai memanfaatkannya untuk kepentingan manusia sendiri.

Kedua, karena pada dasarnya manusia ingin hidup enak dan serba mudah. Ia  selalu mencari akal bagaimana memanfaatkan semua benda-benda, makhluk-mahkluk dan gejala-gejala alam di sekitarnya untuk memudahkan pekerjaannya sehari-hari. Bukankah nenek moyang kita dulu sudah mengenal roda dan poros, pengungkit dan alat-alat mesin lain yang sederhana? Air sungai, air terjun dan sebagainya telah mereka manfaatkan untuk sekedar meringankan pekerjaannya.

Bagaimana kini? Kita semua mengetahui betapa pesat kemajuan teknologi modern sekarang ini. Hampir semua gejala-gejala ilmu alam menemukan penerapannya dalam hidup sehari-hari. Bukankah ilmu alam merupakan dasar dan sumber teknologi?

Bagaimana cara kita mempelajari ilmu alam? Terlebih dahulu kita ingin mengetahui, bagaimana cara ahli-ahli ilmu alam itu bekerja. Dengan bekal sifat ingin tahunnya yang kuat mereka melakukan pengamatan-pengamatan yang teliti. Dari hasil pengamatan-pengamatan itu disusunlah hipotesa-hipotesa atau dugaan-dugaan sementara. Kemudian dilakukan percobaan-percobaan untuk memeriksa apakah hipotesa itu baik atau tidak. Berdasarkan hipotesa yang baik itu maka disusunlah suatu teori. Demikianlah para ahli ilmu alam itu berkerja. Metoda yang dipakai itu dinamakan metoda ilmiah. Sudah barang tentu, metoda ilmiah tidak selalu mengikuti urutan langkah-langkah yang telah dikemukakan tadi.

Komunikasi yang salah dengan anak

Mungkin ini bukan hal yang baru bagi para pembaca, tetapi bagi saya setelah menonton video dan membaca banya artikel tentang ini, saya sangat tersentak.

betapa banyak kesalahan yang kita lakukan tanpa sengaja, tidak disadari tetapi berdampak sangat besar pada buah hati kita.

anak itu titipan, jadi harus dijaga.

kita banyak menuntut lebih pada anak, tetapi kita abai dengan kewajiban yang harus kita lakukan sebagai orang tua.

ini adalah beberapa kutipan dari beberapa artikel yang saya baca setelah saya menonton video beberapa kesalahan dalam berkomunikasi pada anak kita.

Ada 12 gaya populer penghalang komunikasi :

1. Memerintah
Tujuan ortu : mengendalikan situasi dan menyelesaikan masalah dengan cepat.
Pesan yang ditangkap anak : harus patuh, tidak punya pilihan.

2. Menyalahkan
Tujuan ortu : memberitahu kesalahan anak.
Pesan yang ditangkap anak : tidak pernah benar/baik.

3. Meremehkan
Tujuan ortu : menunjukkan ketidakmampuan anak dan orang tua lebih tahu.
Pesan yang ditangkap anak : tidak berharga, tidak mampu.

4. Membandingkan
Tujuan ortu : memotivasi dengan memberi contoh kebaikan orang lain.
Pesan yang ditangkap anak : tidak sayang, pilih kasih, selalu kurang.

5. Mencap
Tujuan ortu : memberitahu kekurangan dengan maksud anak berubah.
Pesan yang ditangkap anak : itulah aku.

6. Mengancam
Tujuan ortu : supaya menurut/patuh dengan cepat.
Pesan yang ditangkap anak : cemas, takut.

7. Menasehati
Tujuan ortu : supaya anak tahu mana yang baik dan buruk.
Pesan yang ditangkap anak : sok tahu, bosan, dan bawel.

8. Membohongi
Tujuan ortu : membuat urusan jadi gampang.
Pesan yang ditangkap anak: orang tua/orang dewasa tidak dapat dipercaya.

9. Menghibur
Tujuan ortu : menghilangkan kesedihan atau kekecewaan, anak jadi senang terus dan jangan larut.
Pesan yang ditangkap anak: senang, lari dari masalah.

10. Mengkritik
Tujuan ortu : meningkatkan kemampuan dirinya agar anak memperbaiki kesalahan.
Pesan yang ditangkap anak: kurang, salah.

11. Menyindir
Tujuan ortu : memotivasi, mengingatkan supaya tidak melakukan seperti itu dengan cara menyatakan yang sebaliknya.
Pesan yang ditangkap : menyakiti hati.

12. Menganalisa
Tujuan ortu : mencari penyebab positif/negatif atau kesalahannya dan berupaya mencegahnya agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Pesan yang ditangkap anak : sok pintar.

bagaimana ini bisa terjadi dalam kehidupan kita, mungkin contoh ini bisa membuat kita sadar… Baca lebih lanjut

Elly Risman: “Banyak Orangtua yang Tak Siap Jadi Orangtua”

TULISAN YANG PENTING UNTUK DIBACA PARA ORANG TUA SEPERTI SAYA. SELALU BELAJAR MENJADI ORANG TUA YANG BAIK BAGI MASA DEPAN ANAK-ANAK KITA.

Workshop Kiat Berkomunikasi Sehat dengan Anak

Jumat, 29 September 2006
Menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.

Majalah Hidayatullah edisi September 2006

Rubrik FIGUR

Tulisan 1:

Mudahkah menjadi orangtua? Sebagian orang mungkin mengira demikian. Mereka kira, setelah menikah dan punya anak lantas mereka otomatis siap menjadi orangtua yang cakap dan baik. Kalau ada yang berfikir begitu berarti dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Yang benar, menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.

Lihat pos aslinya 3.649 kata lagi