Blended Learning dengan Media Sosial

Dr. Milya Sari, S.Pd., M.Si & Dr. Asmendri, S.Ag., M.Pd

====================================

ALHAMDULLLAH

Senang sekali sudah bisa berbagai pengalaman tentang blended learning dengan pemerhati dan praktisi pendidikan di Indonesia.

Terima kasih atas atensi yang luar biasa dari Bapak dan Ibuk peserta Webinar Series Pendidikan #2 terhadap materi “Blended Learning dengan Media Sosial”

Terima kasih untuk pihak penyelenggara; Pusat Kajian Manajemen Informasi Preservasi dan Dokumentasi, MASIKA –ICMI, dan KAHMI Kalimantan Selatan yang telah mengangkat acara ini pada tanggal 8 Juni 2020.

Terima kasih juga kepada moderator Bapak Willy Ramadhan. M.Si dari UIN Antasari, dan Bapak Dr. Agus Setiawan, M.Pd  dari IAIN Samarinda, dan Patner terbaik Dr. Asmendri, S.Ag., M.Pd dari IAIN Batusangkar yang telah menjadi Tim nara sumber pada Webinar Series Pendidikan #2.

=====================================

Jangan ragu memulai pembelajaran online. Mulailah dengan aplikasi yang sangat familiar dengan kita, kita bisa menggunakannya dgn baik, begitu juga dengan peserta didik kita.

Model Blended Learning atau kita singkat dengan MBL sangat mungkin diterapkan di era new normal.

Jika bapak dan ibuk ingin menerapkan blended learning, perlu memperhatikan 5 hal. 5 hal ini harus ada dalam kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan.

  1. Pertama, Live Event/Face to face, berupa kegiatan belajar tatap muka langsung di kelas, atau tatap muka secara tidak langsung seperti  kelas virtual
  2. Kedua, kombinasi pembelajaran langsung dengan pembelajaran mandiri. peserta didik bisa belajar kapan saja, di mana saja dengan menggunakan berbagai konten (bahan ajar) yang dirancang khusus untuk belajar mandiri. Bahan ajar bisa berupa teks atau multimedia.  
  3. Ketiga, Collaboration, adanya lingkungan belajar yang membuat peserta didik saling berkomunikasi dengan orang lain, misalnya melalui e-mail, diskusi dan chat online). Kolaborasi harus diarahkan untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain, bisa juga untuk pendalaman materi, dsb.
  4. Keempat, Assessment (penilaian): untuk mengukur pengetahuan peserta didik atau keberhasilan belajar. Bentuknya bisa pretest, posttest. Jenis assessmen bisa tes maupun non-tes, secara online assessment  dan offline, sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas peserta didik mengikuti assessmen tersebut.
  5. Kelima, Reference Materials (bahan referensi): yang dapat meningkatkan kegiatan belajar, bahan ajar yang dapat diakses oleh peserta belajar baik secara offline (dalam bentuk buku, lembar kerja, CD, dll) maupun secara online (via website resmi tertentu).

Jika bapak dan ibuk ingin berhasil menerapkan blended learning, perlu memperhatikan 5 aspek tersebut, apakah sdh ada atau belum.

==================================== Baca lebih lanjut

Buku Mengenal Lebih Dekat Model Blended Learning Dengan Facebook | Penerbit Buku Deepublish

 
 

Buku ini hadir sebagai salah satu ikhtiar dan partisipasi penulis untuk memanfaatkan facebook dalam pembelajaran. Penulisan buku ini dimasudkan untuk memenuhi referensi dalam pembelajaran yang menggabungkan kegiatan pembelajaran tatap muka di kelas dan pembelajaran online/e-learning (blended learning) yang dirasa masih langka, terutama yang memanfaatkan media sosial facebook dalam kegiatan pembelajaran (selanjutnya disingkat dengan MBL-fb).

Tantangan pendidikan masa depan berkaitan dengan TIK. Sehingga Eggen dan Kauchak mengemukakan bahwa melek (literasi) teknologi telah menjadi keahlian dasar yang penting setelah membaca, menulis dan berhitung. Teknologi seperti ponsel dan jaringan sosial facebook telah mengubah secara revolusioner cara manusia berkomunikasi. Facebook merupakan satu fenomena di Indonesia dan dunia, yang bisa menjadi potensi bagi dunia pendidikan.

Dapatkah facebook membantu pendidikan? Ada dua aspek utama yang digunakan mahasiswa pada facebook: aspek sosial dan edukasional. Facebook dapat memperkuat dan mempertahankan hubungan, membangun jaringan sosial/membentuk hubungan maya, menghapus batasan teman, mengikuti trend sejawat, berbagi potret, bersenang-senang dan melepas lelah dan tetap berhubungan dengan keluarga. Dalam hal belajar, facebook memungkinkan mahasiswa berhubungan dengan fakultas dan mahasiswa lain lewat hubungan pertemanan/sosial, memberikan komentar pada sejawat/berbagi pengetahuan, berbagi perasaan dengan sejawat, bergabung dengan grup-grup yang dibuat untuk mata kuliah tertentu, bekerjasama: notifikasi, diskusi, jadwal kuliah, kalender manajemen proyek, dan menggunakan aplikasi pendidikan untuk mengorganisir aktivitas belajar.

Facebook sangat mempengaruhi kehidupan sosial mahasiswa. Lembaga pendidikan perlu menggunakan aplikasi jejaring sosial ini untuk pendidikan. Aktivitas mengajar perlu dirancang khusus untuk berbagai populasi target. Titik terobosannya dapat dimulai dari menggabungkan kegiatan tatap muka di kelas dengan diskusi online di facebook melalui MBL-fb

Banyak aplikasi facebook yang dapat dimanfaat pada bidang pendidikan. Facebook dapat mengakomodasi akses yang banyak, cepat, rahasia, nyaman dan mudah digunakan tanpa perlu operator untuk menjalankannya. Jadi pembelajaran online bisa dilakukan tanpa perlu tersedianya website dari fakultas atau institut untuk perkuliahan. Facebook juga dapat menjadi solusi keterbatasan waktu dan keterbatasan psikologis dalam pembelajaran tatap muka (tradisional) di kelas selama ini. Menghadirkan pembelajaran sepanjang waktu kapan saja dan dimana saja melalui pemanfaatan media sosial facebook adalah sebuah potensi, peluang dan tantangan dalam dunia pendidikan. Inilah yang menjadi dasar pemikiran ditulisnya buku ini.

Isi bab pada buku ini menguraikan beberapa hal tentang: mengapa menggunakan MBL-fb, lebih dekat dengan MBL-fb, belajar dengan MBL-fb, dan sukses dengan MBL-fb. Mengapa menggunakan MBL-fb menjelaskan tentang alasan digunakannya MBL-fb dalam pembelajaran. Pada bagian lebih dekat dengan MBL-fb menguraikan tentang komponen model ini, mulai dari sintak, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung dan dampak intruksional serta pengiringnya. Pada bagian ini juga dibahas bagaimana skenario pembelajaran dari sintak MBL-fb serta apa saja aktivitas dosen dan mahasiswa dalam setiap fasenya. Belajar dengan MBL-fb merupakan contoh dari aplikasi MBL-fb dalam Perkuliahan di LPTK-PTKI. Model ini diterapkan pada perkuliahan Biologi Umum di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan LPTK-PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam). Penerapan model dilengkapi dengan Panduan Kerja Dosen (PKD) dan Panduan Kerja Mahasiswa (PKM). Sukses dengan MBL-fb menjelaskan tentang apa yang harus diperhatikan jika menerapkan MBL-fb dalam pembelajaran.

Buku Mengenal Lebih Dekat Model Blended Learning Dengan Facebook ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Pendidikan Deepublish.

Model Pembelajaran

Dr. Milya Sari, S.Pd., M.Si

Ini adalah artikel yang saya muat di blog ini setelah istirahat yang lumayan lama karena menyelesaikan disertasi. disertasi saya berjudul “Pengembangan Model Blended Learning dengan facebook (MBL-fb) pada perkuliahan biologi umum di LPTK-PTKI. 

bagian-bagian dari disertasi tersebut saya bagi disini, sedangkan produk dari disertasi berupa buku model sudah diterbitkan dengan judul “Mengenal lebih dekat model blended learning dengan facebook. Model pembelajaran untuk generasi digital“.  walaupun selesainya disertasi sudah lama, namun baru dapat menerbitkan bukunya bulan Juli tahun 2019 ini.

jika ada yang mau memiliki buku tersebut silahkan kontak email saya : milyasari.iain@gmail.com atau dikomentar tulisan ini.

semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca. selamat membaca.

Model Pembelajaran

Model adalah bentuk atau contoh yang tersusun secara sistematis. Pembelajaran adalah pengaturan lingkungan yang terdapat proses interaksi untuk memperoleh sesuatu. Model pembelajaran adalah pendekatan spesifik dalam mengajar (Eggen dan Kauchak, 2012:7) dan mengandung unsur-unsur instruksional seperti film, buku, program, kurikulum (Joyce & Weil,1992:4). Model pembelajaran juga mengajarkan bagaimana cara belajar (Trianto, 2009:74). Model pembelajaran merupakan desain spesifik yang dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.

Model pembelajaran mempunyai beberapa ciri khas. Ciri khas model pembelajaran terdiri atas: (1) tujuan; dirancang untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memperoleh pemahaman mendalam tentang bentuk spesifik materi, (2) Fase; mencakup serangkaian langkah-langkah yang bertujuan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang spesifik, (3) Fondasi; didukung teori dan penelitian tentang pembelajaran dan motivasi ( Eggen dan  Kauchak, 2012:7; Trianto, 2009:74; Rusman, 2011:136), (4) adanya kegiatan pengembangan,  (5) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; (6) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai (Trianto, 2009:74), (7) dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas, (8) memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran dan (9) membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model yang dipilih (Rusman, 2011:136).

Model pembelajaran memiliki unsur-unsur atau komponen-komponen yang menjadi ciri khasnya. Ciri khas model pembelajaran yang sering digunakan dalam pengembangan model pembelajaran berdasarkan unsur/ komponen yang dikemukakan Joyce dan Weil (1992:14). Ada lima unsur penting yang menjadi syarat dalam model pembelajaran yang dikemukakan Joyce dan Weil, yaitu: sintak, sistem sosial, prinsip-prinsip reaksi, sistem pendukung dan efek instruksional dan pengiring.

Apa untungnya menggunakan facebook dalam pembelajaran

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa facebook mampu menciptakan lingkungan belajar yang partisipatif, kolaboratif, konstruktif, dan perpengaruh baik pada hasil belajar.

Pembelajaran berbasis facebook dapat  meningkatkan kreativitas peserta didik di Malaysia (Alias, et al, 2013:60-67).

Facebook dapat digunakan sebagai lingkungan belajar online untuk pembelajaran bahasa Inggris di Malaysia (Kabilan, et al, 2010:179).

Facebook membantu peserta didik yang tinggal di negara yang berbeda untuk belajar kelompok dan menemukan informasi yang dibutuhkan dalam sistem pembelajaran jarak jauh di Universitas Terbuka (Riady, 2014:227).

Jurnal dialog pada facebook dapat digunakan untuk mengetahui kesulitan peserta didik dalam belajar bahasa Inggris pada sekolah menengah dan perguruan tinggi di Malaysia (Heiw, 2012: 11).

Kerjasama pada media sosial facebook dengan teknik mencari informasi dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa (Sinprakob and Songkram,  2015:2027).

Kebiasaan menulis status di facebook dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis  mahasiswa (Gibbins and Greenhow, 2014:154).

Akademisi dan peserta didik di Rumania setuju dan mempunyai pandangan positif terhadap penggunaan facebook dalam pendidikan (Şoitu & Păuleţ-Crăiniceanu, 2013:40).

Facebook memiliki banyak kelebihan jika diterapkan dalam pembelajaran.  Diskusi dapat dilakukan dalam grup tertutup sehingga bisa mendiskusikan hal-hal yang bersifat “sensitif” ditengah masyarakat. Bisa melatih argumentasi mahasiswa secara tertulis. Keaktifan mahasiswa bisa diketahui berdasarkan komentar yang diberikannya. Mahasiswa mudah untuk saling berbagi informasi terbaru. Dosen bisa menambahkan materi atau memberikan informasi tentang perkuliahan di luar jam tatap muka. Dapat menyelesaikan lebih banyak materi yang belum tuntas saat diskusi tatap muka (Sari, 2014: 150-152).

Facebook dapat digunakan sebagai pengganti website pada pembelajaran online  (Albloly & Ahmed, 2015:6016).

Generasi Z… Peserta didik yang dihadapi oleh guru dan calon guru

Oleh Milya Sari, S.Pd. M.Si

Guru akan menghadapi peserta didik yang sangat melek teknologi. Peserta didik yang akan dihadapi oleh guru adalah generasi Z. Generasi Z disebut juga  iGeneration,  Generasi  Net, atau Generasi Internet, lahir tahun 1995-2011 yang saat ini berusia 5 hingga 20 tahun. Hal ini dikemukakan oleh Andrianto (2011), Sudrajat (2012), Angelia (2016), dan Firasz (2016). Menurut mereka generasi Z memiliki karakteristik:

  1. fasih teknologi/melek internet. Mereka dapat mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat dari internet;
  2. sangat sosial, mereka sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring sosial;
  3. multitasking, mereka terbiasa melakukan berbagai aktivitas  dalam satu waktu yang bersamaan;
  4. bisa mati gaya tanpa gadget, anak-anak generasi Z akan merasa canggung dan sibuk sendiri ketika bertemu dengan orang di dunia nyata, mereka lebih suka berinteraksi melalui media sosial dibandingkan bertemu secara langsung;
  5. membaca singkat, mereka terbiasa menggunakan gadget, lebih suka membaca artikel secara online dibandingkan membaca buku konvensional yang berlembar-lembar.

Baca lebih lanjut

Blended Learning itu apa sich?

Blended learning merupakan salah satu isu pendidikan terbaru dalam perkembangan globalisasi dan teknologi. Secara sederhana blended learning sering diartikan sebagai  pencampuran, atau penggabungan antara satu pola pembelajaran dengan pola pembelajaran yang lainnya. Selain blended learning ada istilah lain yang sering digunakan dan mempunyai makna sama. Watson et al (2013:8), Mainnen (2008) (dalam Rusman et al, 2011:242), Kitchenham (2011: xiv) dan  Sukarno (2011),  menyebutkan “blended learning mempunyai beberapa nama alternatif yaitu mixed learning, hybrid learning, blended blended e-learning dan melted learning. Istilah–istilah ini mengandung arti yang sama yaitu perpaduan, percampuran atau kombinasi pembelajaran. Namun istilah yang lebih sering dikemukakan adalah blended learning.

Baca lebih lanjut