apa untungnya menggunakan facebook dalam pembelajaran

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa facebook mampu menciptakan lingkungan belajar yang partisipatif, kolaboratif, konstruktif, dan perpengaruh baik pada hasil belajar.

Pembelajaran berbasis facebook dapat  meningkatkan kreativitas peserta didik di Malaysia (Alias, et al, 2013:60-67).

Facebook dapat digunakan sebagai lingkungan belajar online untuk pembelajaran bahasa Inggris di Malaysia (Kabilan, et al, 2010:179).

Facebook membantu peserta didik yang tinggal di negara yang berbeda untuk belajar kelompok dan menemukan informasi yang dibutuhkan dalam sistem pembelajaran jarak jauh di Universitas Terbuka (Riady, 2014:227).

Jurnal dialog pada facebook dapat digunakan untuk mengetahui kesulitan peserta didik dalam belajar bahasa Inggris pada sekolah menengah dan perguruan tinggi di Malaysia (Heiw, 2012: 11).

Kerjasama pada media sosial facebook dengan teknik mencari informasi dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa (Sinprakob and Songkram,  2015:2027).

Kebiasaan menulis status di facebook dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis  mahasiswa (Gibbins and Greenhow, 2014:154).

Akademisi dan peserta didik di Rumania setuju dan mempunyai pandangan positif terhadap penggunaan facebook dalam pendidikan (Şoitu & Păuleţ-Crăiniceanu, 2013:40).

Facebook memiliki banyak kelebihan jika diterapkan dalam pembelajaran.  Diskusi dapat dilakukan dalam grup tertutup sehingga bisa mendiskusikan hal-hal yang bersifat “sensitif” ditengah masyarakat. Bisa melatih argumentasi mahasiswa secara tertulis. Keaktifan mahasiswa bisa diketahui berdasarkan komentar yang diberikannya. Mahasiswa mudah untuk saling berbagi informasi terbaru. Dosen bisa menambahkan materi atau memberikan informasi tentang perkuliahan di luar jam tatap muka. Dapat menyelesaikan lebih banyak materi yang belum tuntas saat diskusi tatap muka (Sari, 2014: 150-152).

Facebook dapat digunakan sebagai pengganti website pada pembelajaran online  (Albloly & Ahmed, 2015:6016).

Iklan

Blended Learning itu apa sich?

Blended learning merupakan salah satu isu pendidikan terbaru dalam perkembangan globalisasi dan teknologi. Secara sederhana blended learning sering diartikan sebagai  pencampuran, atau penggabungan antara satu pola pembelajaran dengan pola pembelajaran yang lainnya. Selain blended learning ada istilah lain yang sering digunakan dan mempunyai makna sama. Watson et al (2013:8), Mainnen (2008) (dalam Rusman et al, 2011:242), Kitchenham (2011: xiv) dan  Sukarno (2011),  menyebutkan “blended learning mempunyai beberapa nama alternatif yaitu mixed learning, hybrid learning, blended blended e-learning dan melted learning. Istilah–istilah ini mengandung arti yang sama yaitu perpaduan, percampuran atau kombinasi pembelajaran. Namun istilah yang lebih sering dikemukakan adalah blended learning.

Baca lebih lanjut

Catatan tentang UN yang tertinggal..

Ini sebetulnya tulisan yang sudah lama, sekitar tahun 2011, sewaktu saya sedang memberikan  kuliah evaluasi hasil belajar. ini juga berkaitan dengan tulisan yang sudah saya terbitkan sebelumnya.

waktu itu Saya berdiskusi dengan mahasiswa membahas tentang perlu tidaknya UN dilaksanakan.
Semua setuju UN tidak dilaksanakan, karena banyak sekali kecurangan yang terjadi dan itu menimbulkan pengaruh yang tidak baik dalam proses pendidikan.

Cuma yang menjadi masalahnya, dengan apa UN mau diganti?

Sewaktu ditawarkan, kelulusan siswa atau lanjut tidaknya siswa tergantung kepada keputusan guru, karena gurulah yang lebih tahu kemampuan siswanya. Hal ini bukan sesuatu yang aneh di Finlandia, Cina, Amerika dan banyak negara maju lainnya.

Tapi ada nada keberatan dari mahasiswa saya, kalau itu dilakukan maka akan terjadi KOLUSI DAN NEPOTISME, guru akan meluluskan siswa dari keluarga kroni-kroninya..

Pada saat itu saya belum menjelaskan, bahwa di negara-negara tersebut gaji guru sangat tinggi, penghargaan kepada profesi guru sangat baik, yang menjadi guru adalah orang-orang pilihan, hanya mahasiswa dengan prestasi baik yang boleh menjadi guru, sehingga kompetensinya teruji dan kinerjanya dijamin karena kesejahteraannya tidak perlu diganggu gugat lagi.

Seharusnya Indonesia belajar dari Cina, mereka menaikkan gaji guru, sehingga gajinya paling tinggi dari pegawai lainnya, Jepang dan Finlandia juga begitu. Jadi semua orang tertarik jadi guru. Jika siswa-siswa termaik sudah berminat jadi guru, tentu yang terselksi nanti sudah betul-betul yang berbobot.

Dengan kesejahteraan yang baik, tak ada orang tua yang berani “menyogok” sang guru. Apalagi kinerja guru di evalusi setiap tahun. Yang tidak berprestasi, “Ok, kerja sama sampai disini”, karena ini proyek peningkatan sumber daya manusia, dan tidak boleh main-main.
Jepang cepat bangkit dari kekalahan perang karena pendidikan.
Cina jadi raksasa Asia dan Dunia juga karena pendidikan.
Malaysia, maju dari Indonesia juga karena pendidikan…
Masih ada contoh lain?

Jika mengejar teknologi dengan membeli hasil teknologi, akan cepat usang karena ipek berkembang sangat cepat.
Tapi jika menciptaka SDM yang akan menciptakan teknologi, maka teknologi yang akan mengiringi kemajuan pengetahuan atau sebaliknya. Tidak akan pernah ketinggalan zaman, dan kita punya daya tawar ang tinggi di mata dunia karena semua orang sangat tergantung kepada teknologi yang kta hasilkan.

Ada lagi yang membuat Saya jadi termenung….
Apakah guru di Indonesia tidak lagi bisa dipercaya? Sehingga kejujurannya dalam meluluskan siswanya diragukan oleh masyarakat atau oleh “mantan” siswanya sendiri?
Kalau guru saja sudah tidak bisa dipercaya, jadi kepada siapa kita mesti percaya?

Sungguh besar tantangan pendidikan karakter di negara ini, karena keteladanan di sekolah yang dimulai dari guru diragukan oleh masyarakat.