Generasi Z… Peserta didik yang dihadapi oleh guru dan calon guru

Oleh Milya Sari, S.Pd. M.Si

Guru akan menghadapi peserta didik yang sangat melek teknologi. Peserta didik yang akan dihadapi oleh guru adalah generasi Z. Generasi Z disebut juga  iGeneration,  Generasi  Net, atau Generasi Internet, lahir tahun 1995-2011 yang saat ini berusia 5 hingga 20 tahun. Hal ini dikemukakan oleh Andrianto (2011), Sudrajat (2012), Angelia (2016), dan Firasz (2016). Menurut mereka generasi Z memiliki karakteristik:

  1. fasih teknologi/melek internet. Mereka dapat mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat dari internet;
  2. sangat sosial, mereka sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring sosial;
  3. multitasking, mereka terbiasa melakukan berbagai aktivitas  dalam satu waktu yang bersamaan;
  4. bisa mati gaya tanpa gadget, anak-anak generasi Z akan merasa canggung dan sibuk sendiri ketika bertemu dengan orang di dunia nyata, mereka lebih suka berinteraksi melalui media sosial dibandingkan bertemu secara langsung;
  5. membaca singkat, mereka terbiasa menggunakan gadget, lebih suka membaca artikel secara online dibandingkan membaca buku konvensional yang berlembar-lembar.

Menghadapi generasi Z ini, teknologi harus dimanfaatkan secara tepat dan benar. Dalam belajar, anak Generasi Z cenderung menyukai hal-hal yang bersifat aplikatif dan menyenangkan. Untuk itu dianjurkan menggunakan model-model pembelajaran aktif, berbagai aplikasi untuk pembelajaran dan simulasi komputer untuk menghasilkan penyajian yang beragam. Media sosial perlu dimanfaatkan untul mengakomodir kecenderungan anak Generasi Z dalam bermedia-sosial. Misalnya menggunakan facebook untuk pembelajaran atau melakukan konseling melalui facebook yang mendukung efektivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

Situs media sosial facebook merupakan satu fenomena di Indonesia dan dunia. Penggunaan facebook di Indonesia setiap tahun selalu mengalami peningkatan. Noviandari (2015) menyatakan Indonesia berada diperingkat ketiga negara dengan jumlah pengguna facebook terbanyak di dunia, di belakang Amerika Serikat dan India. eMarketer bahkan memprediksi bahwa pada 2018, sekitar 98,8% pengguna facebook di Indonesia akan mengakses media sosial ini melalui perangkat mobile mereka. Jumlah pengguna facebook di Indonesia sendiri diproyeksi akan mencapai 96,2 juta pada tahun 2018. Yusuf (2016) juga mengemukakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna aktif bulanan facebook  mencapai kisaran 82 juta orang pada akhir tahun 2015. Hampir semua pengguna internet di Indonesia memakai facebook. Pengguna terbanyak adalah usia 18-24 tahun (42%). Facebook sangat potensial untuk dimanfaatkan.

Penulis melakukan analisis terhadap karakteristik mahasiswa semester satu (1) di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Padang (sekarang UIN Padang) berkaitan dengan interaksi mereka dengan facebook. Tujuannya untuk melihat latar belakang pengalaman yang dimiliki mahasiswa (background experiences) dan kesiapan mereka menerima perkuliahan melalui MBL-fb. Analisis karakteristik mahasiswa berkaitan dengan  umur, jenis kelamin, dan kegiatannya dengan facebook. Hasil analisis terhadap karakteristik mahasiswa  ditampilkan sebagai berikut.

  1. Mayoritas mahasiswa semester 1 berusia 18-19 tahun. Usia ini termasuk usia pengguna aktif facebook (18-24 tahun). Hasil dari survey yang diadakan facebook sendiri mendapatkan bahwa Usia 18-24 tahun merupakan mengguna aktif media sosial facebook diseluruh dunia.
  2. Mayoritas mahasiswa adalah wanita sebanyak 71,58% dan mahasiswa pria hanya 20,42%. Laporan yang dikeluarkan We Are Social (wearesocial.net) November 2015 diketahui pada rentang usia 13-19 tahun jumlah pengguna facebook antara pria dengan wanita sama banyak. Jadi pada usia ini baik mahasiswa pria maupun wanita sama-sama menyukai facebook.
  3. Interaksi mahasiswa dengan facebook di peroleh berdasarkan pertanyan tentang: jumlah akun facebook yang dimiliki, sejak kapan memiliki akun tersebut, lama waktu yang dihabiskan untuk berinteraksi dengan facebeook, dan perangkat yang digunakan untuk melakukan aktivitas di facebook. hasilnya adalah :
  • mayoritas mahasiswa memiliki satu akun facebook. Sebagaian besar mereka memiliki akun ini sejak SMP. Tidak ada mahasiswa yang tidak memiliki akun facebook.
  • Kebanyakan waktu yang digunakan untuk berinteraksi di facebook kurang dari 1 jam, walaupun banyak juga yang menggunakan facebook lebih dari 1 jam.
  • Perangkat yang digunakan sebagaian besarnya adalah HP sendiri. Jadi mahasiswa sudah terbiasa menggunakan facebook dalam kesehariannya dengan menggunakan berbagai perangkat.

Penelitian Erlina, et al (2015) juga diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa sudah memiliki akun facebook sebelum memasuki PT (95,14%), menghabiskan waktu kurang dari 1 jam per hari (45,59%), dan login ke situs facebook beberapa kali per hari.

Banyak peserta didik belum memanfaatkan kemajuan media sosial untuk hal-hal positif, mereka lebih cenderung menggunakan media sosial  untuk hal-hal  yang kurang bermanfaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin sering peserta didik menggunakan facebook, semakin sedikit waktu mereka untuk belajar dan ini memperngaruhi prestasi akademiknya. Ini dikemukakan oleh Kabilan, et al (2010),  Ghareb and Hawar (2015), Maqableh, et al (2015). Ini sangat tidak produktif dan perlu diatasi. Padahal berdasarkan banyak penelitian, penggunaan teknologi dalam pendidikan  termasuk mdia sosial bisa meningkatkan kreativitas dan motivasi belajar peserta didik.

Menghadapi generasi sosial media ini,  guru perlu menguasai TIK. Amerika Serikat sendiri sudah menetapkan standar yang berkaitan dengan teknologi kepada pendidik (guru)  mereka. Standar Teknologi pendidikan nasional untuk guru yang ditetapkan adalah sebagai berikut:

  1. memfasilitasi dan mengilhami pembelajaran dan kreativitas siswa;
  2. merancang dan mengembangkan pengalaman dan assesmen belajar abad digital;
  3. membuat model kerja dan belajar abad digital;
  4. mendorong dan membuat model kewargaan dan tanggung jawab digital; dan
  5. berkomitmen pada perkembangan dan kepemimpinan profesional.

Guru atau calon guru sebagai pendidik harus melek teknologi karena pembelajaran abad 21 berkaitan dengan TPACK. TPACK yaitu teknologi (technological), pedagogi (pedagogical), dan isi pembelajaran (content knowledge) yang dibelajarkan. Kerangka pikir TPACK harus dikuasai oleh seorang pendidik dalam membelajarkan peserta didiknya  (Herawati, 2011).

TPACK adalah kombinasi dari tiga bentuk pengetahuan utama. Pengetahuan tentang isi pelajaran (mendeskripsikan apa materi pokok yang dibelajarkan dalam bidang tertentu). Pengetahuan pedagogik yang dicirikan dengan strategi dan metode yang digunakan pendidik di kelas untuk membelajarkan peserta didik). Teknologi berarti bagaimana pendidik  mengembangkan pengetahuan dan keterampilan teknologinya untuk memanfaatkan sumber-sumber belajar online yang tersedia untuk dimasukkan ke dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran atau mata kuliah yang dibinanya. TPACK sebagai landasan perlunya pendidik mempertimbangkan penggunaan MBL-fb dalam pembelajaran.

Kemajuan TIK dan dampaknya terhadap peserta didik menjadi dasar bagi LPTK untuk membekali guru dan calon guru terampil menggunakan teknologi. Pemanfaatan TIK juga merupakan bagian dari kompetensi pegagogik guru di Indonesia. ini dinyatakan dalam permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang   standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Pada butir ke 5 standar  kompetensi pedagogik dijelaskan bahwa guru harus mampu memanfaatkan TIK untuk kepentingan pembelajaran yang diampunya. Oleh karena itu perkuliahan di LPTK perlu membiasakan mahasiswanya menggunakan TIK dalam pembelajaran.

MBL-fb memiliki potensi untuk memperbaiki efektifitas pembelajaran. Akses terhadap sumber belajar melalui internet memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh informasi lebih luas. MBL-fb merupakan salah satu cara untuk meningkatkan proses belajar dan pembelajaran di perguruan tinggi, termasuk LPTK. Sukarno (2011) dan Graham (2005) menyatakan alasan blended learning dipilih di perguruan tinggi antara lain karena peningkatan pedagogi, peningkatan akses dan fleksibilitas, kaya akan pengajaran, kaya interaksi sosial, dan kemudahan revisi bahan ajar.

Jadi MBL-fb bisa membekali calon guru terampil menggunakan TIK. Model ini juga dapat mengatasi berbagai permasalahan pada perkuliahan tatap muka yang sering dibatasi oleh ketersediaan ruang dan keterbatasan waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s