Mengapa dan untuk apa kita mempelajari alam

Mempelajari Ilmu pengetahuan alam (sains) dan teknologi (Iptek) secara mendalam bukan berarti membawa kita menuju ateisme. Namun sebaliknya, semakin kita mempelajari Iptek, semakin kita yakin akan adanya ‘Yang Maha Mengatur” segala ketertiban di alam raya ini. Ajaran Islam sendiri, menyuruh kita mempelajari ilmu aqliyah (Iptek), sebagaimana kita diwajibkan belajar ilmu naqliyah. Peningkatan imtag bisa dilakukan dengan penguasaan Iptek. Kedua bidang ini tidaklah berdiri sendiri ataupun bertolak belakang, tapi harus diintegrasikan. Dan integrasi imtag dan iptek bisa ditemukan pada matakuliah Ilmu Kealaman Dasar. Di era globalisasi sekarang ini kebangkitan suatu bangsa tidak mungkin akan terlaksana tanpa penguasaan sains dan teknologi.

Amatilah alam sekitar kita. Pada malam hari yang cerah dengan menggunakan indra mata, kita dapat melihat jutaan bintang dilangit, bagaikan permata yang berkelab-kelib. Apalagi jika kita menggunakan teropong atau teleskop bintang, kita dapat mengamati lebih jelas lagi keadaan makrokosmos disekitar kita. Dengan menggunakan mikroskop, kita bisa melihat kehidupan jasad renik (mikrokosmos) yang mungkin tidak pernah terbanyangkan bentuknya oleh kita selama ini.

Mengapa dan untuk apa kita mempelajari alam? Marilah kita merujuk kembali kepada salah satu riwayat berikut ini,  ”Pada suatu hari di waktu subuh, sudah lama Bilal melakukan azan di masjid Madinah, namun Nabi belum juga keluar dari dalam gubuknya. Maka pergilah Bilal menjelang beliau, karena cemas kalau-kalau beliau dalam sakit. Maka masuklah Bilal ke dalam. Didapatnya Nabi sedang duduk termenung dan pada matanya terkesan bekas menangis. Lalu Bilal bertanya: Ya Utusan Allah, mengapa engkau menangis? Padahal kalau pun ada kesalahanmu, baik dahulu maupun nanti, akan diampuni oleh Tuhan.”  Lalu Nabi menjawab: Hai Bilal, tengah malam telah datang kepadaku Jibril membawa wahyu Tuhan yang berbunyi:

 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau Menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran : 190-191).

 

“sengsaralah hai Bilal” ujar Nabi selanjutnya, bagi orang yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkan maksudnya.

Maka firman Ilahi dan ujaran Nabi itu, mengandung ajakan agar kita senantiasa merenungkan keadaan di sekeliling kita. Siapakah diantara sekian banyak umat Islam yang mampu membaca, memahami, manafsirkan  “ayat-ayat Allah” yang berkaitan dengan fenomena alam ini? Padahal dalam Al-Qur’an  orang-orang seperti inilah yang dikatakan sebagai ulul albab yaitu kalangan yang beriman, bertaqwa dan mempunyai intelektual cemerlang sehingga mampu berkarya untuk kemaslahatan umat.

Satu fenomena paling memilukan yang dialami ummat Islam seluruh dunia saat ini adalah ketertinggalan dalam persoalan-persoalan Iptek. Padahal untuk kebutuhan kontemporer kehadiran bidang ini merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar. Terlebih Iptek yang dapat membantu serta mempermudah manusia di dalam memahami kekuasaan Allah dan melaksananakn tugas kekhalifahannya. Dalam hal ini, beberapa alasan dikemukakan guna mencari sebab-sebab ketertinggalan tersebut. Salah satunya pendapat bahwa keterbelakangan komunitas Muslim dalam Iptek karena umat Islam lalai dalam memahami serta mengamalkan ajaran agamanya, sementara Islam sendiri menganjurkan umatnya untuk menguasai Iptek.

Semakin seseorang itu mendalami Iptek, makin sadarlah ia akan adanya suatu ketertiban di dalam alam raya ini. Di  mana-mana ada aturan: hukum-hukum alam ciptaan Tuhan (sunnahtullah) yang tertib dan tak dapat dibantah kebenarannya. Kebenaran sunatullah inilah, kebenaran yang hakiki yang dicari dan dikejar oleh ilmuan. Kalau ada hukum suatu ilmu sebagai hasil penelitian kemudian ternyata tidak tepat, itu bukan sunatullahnya yang salah, tetapi kamampuan manusia yang belum sampai untuk memahami alam tersebut. Semakin manusia berusaha membaca, menerjemahkan alam ini, manusia semakin sadar akan keterbatasan ilmunya. Manusia hanya mampu mempelajari gejala-gejala alam itu, mencari kebenaran hukumnya, tetapi terbatas pada “sunatullah” yang sudah digariskan oleh Yang Maha Pengatur; yaitu Allah SWT

Jadi  mengapa dan untuk apa kita mempelajari alam? Pertama, karena sejak manusia dilahirkan ia memiliki sifat ingin tahu. Ia senantiasa bertanya: mengapa? Bukankah seorang anak kecil heran, ketika untuk pertama kali boneka yang terlepas dari tangannya, jatuh. Mengapa jatuh? Lama kelamaan ia menjadi terbiasa akan gejala alam itu. Bukankah sejak zaman dahulu, manusia telah biasa melihat benda-benda selalu jatuh “ke bawah”? Mungkin ada juga sementara ahli-ahli filsafat di waktu itu berusaha menemukan jawabannya. Sudah barang tentu, tidaklah percuma bila anak kecil sering bertanya : mengapa?

Rahasia “jatuhnya ke bawah” itu baru terungkap dalam abad ke 17. Isaac Newton, seorang ahli matematika  dan fisika bangsa Inggris yang hidup tahun 1642-1727, membuka tabir rahasia itu. Ia mengemukakan teorinya yang sangat terkenal, yaitu Teori gravitasi.  Benda itu jatuh karena gaya gravitasi bumi  atau gaya tarik bumi. Bumilah yang menarik benda itu ke bawah. Dengan teori gravitasi itu, dapat pula kemudian diterangkan, mengapa bumi mengelilingi matahari, bulan mengelilingi bumi dan sebagainya.

Bukankah segala sesuatu di dalam alam ini teratur? Matahari terbit dan terbenam secara teratur. Musim hujan dan musim kemarau saling bergantian dari tahun ke tahun. Begitu pula planet-planet tatasurya kita mengedari matahari menurut lintasannya masing-masing secara teratur pula. Semua peristiwa alam yang serba teratur itu sudah barang tentu ada yang mengaturnya. Dia-lah Allah Maha Pencipta, Ditetapkannya segala yang ada di alam dengan aturan-aturannya (Sunatullah) sehingga semuanya menjadi serba teratur.

Sifat ingin tahu yang seperti Newtonlah diantaranya yang mendorong seseorang mempelajari ilmu alam. Bukanlah Allah telah Menciptakan alam semesta itu untuk kepentingan umat manusia? Allah mentakdirkan kita menjadi makhluk yang paling mulia, bukan? Ia telah menyerahkan alam yang serba indah dan teratur itu kepada manusia agar suka menyelidiki semua rahasia-rahasianya dan pandai memanfaatkannya untuk kepentingan manusia sendiri.

Kedua, karena pada dasarnya manusia ingin hidup enak dan serba mudah. Ia  selalu mencari akal bagaimana memanfaatkan semua benda-benda, makhluk-mahkluk dan gejala-gejala alam di sekitarnya untuk memudahkan pekerjaannya sehari-hari. Bukankah nenek moyang kita dulu sudah mengenal roda dan poros, pengungkit dan alat-alat mesin lain yang sederhana? Air sungai, air terjun dan sebagainya telah mereka manfaatkan untuk sekedar meringankan pekerjaannya.

Bagaimana kini? Kita semua mengetahui betapa pesat kemajuan teknologi modern sekarang ini. Hampir semua gejala-gejala ilmu alam menemukan penerapannya dalam hidup sehari-hari. Bukankah ilmu alam merupakan dasar dan sumber teknologi?

Bagaimana cara kita mempelajari ilmu alam? Terlebih dahulu kita ingin mengetahui, bagaimana cara ahli-ahli ilmu alam itu bekerja. Dengan bekal sifat ingin tahunnya yang kuat mereka melakukan pengamatan-pengamatan yang teliti. Dari hasil pengamatan-pengamatan itu disusunlah hipotesa-hipotesa atau dugaan-dugaan sementara. Kemudian dilakukan percobaan-percobaan untuk memeriksa apakah hipotesa itu baik atau tidak. Berdasarkan hipotesa yang baik itu maka disusunlah suatu teori. Demikianlah para ahli ilmu alam itu berkerja. Metoda yang dipakai itu dinamakan metoda ilmiah. Sudah barang tentu, metoda ilmiah tidak selalu mengikuti urutan langkah-langkah yang telah dikemukakan tadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s