Catatan tentang UN yang tertinggal..

Ini sebetulnya tulisan yang sudah lama, sekitar tahun 2011, sewaktu saya sedang memberikan  kuliah evaluasi hasil belajar. ini juga berkaitan dengan tulisan yang sudah saya terbitkan sebelumnya.

waktu itu Saya berdiskusi dengan mahasiswa membahas tentang perlu tidaknya UN dilaksanakan.
Semua setuju UN tidak dilaksanakan, karena banyak sekali kecurangan yang terjadi dan itu menimbulkan pengaruh yang tidak baik dalam proses pendidikan.

Cuma yang menjadi masalahnya, dengan apa UN mau diganti?

Sewaktu ditawarkan, kelulusan siswa atau lanjut tidaknya siswa tergantung kepada keputusan guru, karena gurulah yang lebih tahu kemampuan siswanya. Hal ini bukan sesuatu yang aneh di Finlandia, Cina, Amerika dan banyak negara maju lainnya.

Tapi ada nada keberatan dari mahasiswa saya, kalau itu dilakukan maka akan terjadi KOLUSI DAN NEPOTISME, guru akan meluluskan siswa dari keluarga kroni-kroninya..

Pada saat itu saya belum menjelaskan, bahwa di negara-negara tersebut gaji guru sangat tinggi, penghargaan kepada profesi guru sangat baik, yang menjadi guru adalah orang-orang pilihan, hanya mahasiswa dengan prestasi baik yang boleh menjadi guru, sehingga kompetensinya teruji dan kinerjanya dijamin karena kesejahteraannya tidak perlu diganggu gugat lagi.

Seharusnya Indonesia belajar dari Cina, mereka menaikkan gaji guru, sehingga gajinya paling tinggi dari pegawai lainnya, Jepang dan Finlandia juga begitu. Jadi semua orang tertarik jadi guru. Jika siswa-siswa termaik sudah berminat jadi guru, tentu yang terselksi nanti sudah betul-betul yang berbobot.

Dengan kesejahteraan yang baik, tak ada orang tua yang berani “menyogok” sang guru. Apalagi kinerja guru di evalusi setiap tahun. Yang tidak berprestasi, “Ok, kerja sama sampai disini”, karena ini proyek peningkatan sumber daya manusia, dan tidak boleh main-main.
Jepang cepat bangkit dari kekalahan perang karena pendidikan.
Cina jadi raksasa Asia dan Dunia juga karena pendidikan.
Malaysia, maju dari Indonesia juga karena pendidikan…
Masih ada contoh lain?

Jika mengejar teknologi dengan membeli hasil teknologi, akan cepat usang karena ipek berkembang sangat cepat.
Tapi jika menciptaka SDM yang akan menciptakan teknologi, maka teknologi yang akan mengiringi kemajuan pengetahuan atau sebaliknya. Tidak akan pernah ketinggalan zaman, dan kita punya daya tawar ang tinggi di mata dunia karena semua orang sangat tergantung kepada teknologi yang kta hasilkan.

Ada lagi yang membuat Saya jadi termenung….
Apakah guru di Indonesia tidak lagi bisa dipercaya? Sehingga kejujurannya dalam meluluskan siswanya diragukan oleh masyarakat atau oleh “mantan” siswanya sendiri?
Kalau guru saja sudah tidak bisa dipercaya, jadi kepada siapa kita mesti percaya?

Sungguh besar tantangan pendidikan karakter di negara ini, karena keteladanan di sekolah yang dimulai dari guru diragukan oleh masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s