SUPER WOMEN

Seharusnya hari ibu itu setiap hari. kenapa seperti itu?

Saya cuma ingin mengajak kita berpikir sebentar. kerja seorang ibu, apalagi jika dia ibu rumah tangga merangkap pekerja alias ibu-ibu yang bekerja diluar rumah, kerjanya itu double.

sebagai ibu rumah tangga, mulai pagi hari sebelum penghuni rumah yang lain bangun, dia sudah bangun. menyiapkan segalanya untuk keluarga tercinta. sampai-sampai dia lupa memperhatikan apa yang dia butuhkan. setelah semua siap, dia akan bersiap untuk menghadapi pekerjaannya pula.

Perkerjaan rumah tangga itu, sebuah rutinitas. menyapu, mencuci piring, mencuci kain, menjemur kain, melipatnya, menggosoknya. memasak jika sempat. saking sudah menjadi rutinitas, semua itu dianggap bukanlah suatu pekerjaan, padahal itu semua menghabiskan waktu dan menguras energi yang banyak. bahkan kalau pekerjaan itu dilakukan bapak-bapak, saya yakin banyak yang angkat tangan, walaupun tidak semuannya.

Karena pekerjaannnya menguras tenaga dan menghabiskan waktu, banyak ibu-ibu yang membutuhkan asisten pribadi alias pembantu rumah tangga. keberadaan asisten ini sebetulnya merupakan indikator kalau pekerjaan ibu rumah tangga itu berat.

Tulisan ini bukan menghujat bapak-bapak atau mengatakan kalau pekerjaan ibu rumah tangga itu berat. dan ibu-ibu pun mengerjakan itu semua dengan ikhlas. Coba kalau tidak iklas, mungkin sudah ditinggalkannya semua pekerjaan tersebut. dia akan membiarkan rumah berserakan, cucian menumpuk, semuanya akan berantakan.

Yang diharapkan seorang ibu rumah tangga bukanlah banyaknya hadiah, bukan pula bayaran. Tapi penghargaan terhadap apa yang dikerjakannya. segala penatnya akan terbayar, tenaganya akan kembali pulih jika letihnya dihargai, peluhnya takkan menjadi air mata.

Ibu-ibu rumah tangga tidak akan teriak jika apa yang dilakukannya tak berbalas manis. ada mungkin yang akan meledak menjadi aminisi yang membakar 2 hati. Tapi yang lain memilih diam, menangis dalam sepi, menyusut air mata yang jatuh tak tertahan. Tapi ini bukanlah hal yang baik. Diam yang tertahan bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Diam yang tertahan bisa menjadi  beban yang memberati raga dan jiwanya, menjadi penyakit yang menyertai hidupnya. Namun ada juga diam yang menjadi untaian do’a dalam setiap sujudnya, memohon kelapangan atas segala urusannya, kaluasan hati atas segala bebannya, menjadikannya ibu dengan keluasan jiwa yang mengembalikan kasih tak bertepi kepada anak-anaknya.

Banyak tipe ibu-ibu di dunia. ada yang mengabdi dengan setulus hati ada yang hanya berperan demi status diri. Bersyukurlah bapak-bapak yang mempunyai seorang istri yang mengabdi untuk dirinya. Peliharalah hati ibu rumah tangga ini, supaya pengabdiannya menjadi ibadah suci kepada Ilahi. Kekurangannya, karena keterbatasan dirinya sebagai manusia. Memang tak ada manusia yang sempurna.

Tidak salah jika Umar Bin Kattab tidak berani membantah apa kata istrinya, karena dia tahu begitu banyak yang dilakukan istrinya untuk melayani hidupnya.

Kenapa judul tulisan ini “Super Women”??
karena banyak yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang bisa dilakukan seorang ibu. jadi ibu rumah tangga dengan segala rutinitas hariannya, dan bekerja di luar rumah untuk membantu perekonomian keluarganya. Ini sudah sangat luar biasa. Betapa kuatnya ibu ini. Adakah bapak-bapak yang bisa seperti ini?

saya yakin banyak yang akan protes jika sempat membaca tulisan ini. terutama kalangan bapak-bapak. tetapi dibantah maupun tidak, apa yang diungkapkan disini memang terjadi. silahkan keberatan kalau tidak sependapat.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s