Makanan di sekitar kita

ini bukan cerita baru atau catatan baru, tetapi selalu harus baru dalam kehidupan kita.

ya makanan, harus elalu baru dan segar, tetapi apakah segar dan baru menjadi jaminan kalau ia aman?

ini saya baca tahun 2006 dari tabloid Nakita, tetapi saya rasa isunya tetap harus baru dalam pikiran kita.

terima kasih Tabloid Nakita atas informasinya tentang rekayasa genetika  yang berkaitan dengan makanan transgenik. berikut saya tulis ulang  tulisan sesuai dengan apa yang saya anggap penting saja.

jika ada pembeca yang ingin membaca tulisan aslinya silahkan lihat sumber bacaan yangs aya cantumkan di akir tulisan ini.

terima kasih.

Rekayasa Genetika

 ternyata, selama ini pangan transgenik bebas beredar di pasaran dan

menjadi santapan sehari-hari. Mengapa kita sampai tidk menyadarinya.

 Pangan transgenik atau GMO (genetically modified organism) adalah penganan yang bahan dasarnya berasal dari organisme hasil rekayasa genetika.

Teknologi ini sebenarnya bertujuan mulia, yakni meningkatkan dan menyempurnakan kualitas pangan.

Dengan bioteknologi ini, gen dari berbagai sumber  dapat dipindahkan ke tanaman yang akan diperbaiki sifatnya.

Gen adalah kumpulan molekul ADN (asam deoksiribonukleat) yang mengatur sifat dan karakter mahluk hidup.

Dengan teknologi rekayasa genetika ini, gen dengan karakter tertentu dari sebuah sumber (baik itu tanaman, hewan, atau bakteri) dapat dipindahkan atau dicangkokkan ke sel lain dengan harapan bisa membentuk dan menghasilkan tanaman unggul seperti yang diharapkan.

Contoh:

  • Tomat yang awalnya tidak bisa ditanam di daerah bersuhu rendah direkayasa supaya dapat menjadi tanaman tahan beku dan memiliki musim tumbuh lebih lama.

Caranya:

Gen ikan flounder (ikan yang hidup di daerah es di artik) di’gunting’ dan ’direkatkan’ pada gen buah tomat ini. Hasilnya, tomat pun  dapat ditanam di segala cuaca.

  •  Kedelai yang rawan akan hama lantas disisipi bakteri dari tanah yang mapu mengeluarkan pestisida alami.  Jadi, hama yang menyerang kedelai akan  mati dengan sendirinya. Sehingga penggunaan pestisida kimia bisa dikurangi.

Sudah banyak produk transgenik yang beredar dipasaran Indonesia;

  1. kapas
  2. kedelai (beserta olahannya seperti tempe, tahu, kecap, susu kedelai, minyak kedelai, ekstrak sayuran, Vit E, sereal, es krim, biskuit, roti, permen, makanan gorengan, tepung saus, dll)
  3. Tomat (beserta olahannya seperti saus, jus, pasta tomat, pizza, lagsana, dll)
  4. jagung (beserta olahannya seperti minyak jagung, keripik, popcorn, tepung jagung, pemanis jagung, sirop jagung, Vit C, keripik, es krim, formula bayi, kecap, soda, dll).
  5. kentang (keripik kentang, tepung kanji kentang, dll).
  6. produk susu yang diambil dari sapi yang diberi hormon pertumbuhan sapi transgenik (susu, keju, mentega, krim asam, yogurt, air dadih, dll)
  7. zat-zat aditif yang mungkin berasal dari sumber transgenik, yaitu lesithin kedelai/ lesithin (E322), pewarna karamel (E150), roboflavin (vitamin B2), enzim chymosin (enzim transgenik yang dipakai untuk membuat keju vegetarian, alpha amilase yang digunakan untuk membuat gula putih, dll).

produk-produk ini tercatat hingga tahun 2004 berasal dari 24 sampai 30 jenis tanaman. Tanpa disadari masyarakat luas produk ini telah beredar bebas di Indonesia dari pasar-pasar  tradisional hingga supermarket.

CATATAN BURUK PANGAN TRANSGENIK

Di Indonesia belum ada kajian yang menetapkan bahan pangan produk trangenik yang boleh dan tidak boleh masuk Indonesia dan dikonsumsi manusia.

Contoh, ada bibit kedelai transgenik yang diperuntukkan untuk pakan ternak saja. Bagaimana bila masyarakat yang tidak tahu atau petani menanam bibit tersebut lalu hasilnya dikonsumsi oleh kita? Pangan hewan jelas tidak cocok bahkan berbahaya jika dimakan manusia.

Kekawatiran lain adalah, pangan transgngenik beresiko mengandung senyawa toksik (racun), elergen (pemicu alergi), dan telah mengalami perubahan nilai gizi.

Kasus di Amerika:

Beredarnya suplemen transgenik yang mengandung L-tryptopan pada tahun 1989 yang menyebabkan 37 orang meninggal, 1500 menderita cacat, dan 5000 orang dirawat di RS. Akibat dari EMS (Eosinophilia-Myalgia Syndrome/ sindrom dengan gejala nyeri otot yang parah dan disertai meningkatnya jumlah sel darah putih).

Pada kasus ini,  L-tryptopan dihasilkan dari frementasi bakteri Bacillus amyloliquefasiens. Supaya produksi asam aminonya meningkat gen bakteri ini direkayasa. Ada ahli yang menyatakan bahwa, bakteri yang ditranfer mengalami reaksi sampingan yaitu, membentuk senyawa baru yang serupa dengan tryptopan  tetapi dampaknya cukup mematikan  bagi manusia.

Belajar dari kasus di atas beberapa negara memperketat masuknya produk transgenik ke negaranya. Setiap produk yang dibuat dari bahan transgenik atau olahannya dan dijual kepasaran  harus diberi label dan sudah melalui berbagai pengujian.

Jadi untuk meloloskan pangan trangenik ke pasaran butuh uji keamanan yang panjang,  dimana produk tersebut ;

  1. terbukti tidak mengandung bahan yang berpotensi membahayakan kesehatan konsumen;
    1. tidak menyebabkan elergi, dengan uji elergisitas untuk mengetahui ada tidaknya zat pemicu alergi.
    2. tidak mengandung racun, dengan uji toksisitas untuk melihat adakah racun pada pangan.
    3. Uji imunitas apakah pangan tersebut membahayakan daya tahan tubuh atau tidak.
    4. Uji lain yang mendukung.
  •  harus memiliki gizi yang setara dengan pangan sejenis yang alami.

Tahapan uji ini sesuai dengan UU Pangan No. 7/1996, dimana pasal 13 ayat 1dan 2 mengatur kewajiban produsen untuk menguji keamanan pangan yang dihasilkan sebelum diedarkan ke pasaran. Dan kemudian diberi label kalau produk tersebut adalah hasil rekayasa genetika.

Masalah di Indonesia adalah badan yang mengawasi pelabelan tersebut belum ada,  sehingga masyarakat tidak tahu makanan yang mereka makan aman atau tidak.

Membedakan pangan transgenik dengan pangan alami dengan mata telanjang sulit sekali. Pendektesian hanya dapat dilakukan dilaboratorium dengan menggunakan metoda Teknik analisis PCR (polymerase chain reaction). Jadi cara yang paling mudah untuk mengenali produk transgenik adalah dari label yang ada.

PLUS MINUS MAKANAN TRANSGENIK

 Penemuan teknologi akan selalu menjadi pisau bermata dua bagi manusia. Di satu sisi mendatangkan manfaat, namun di sisi lain ada resiko yang harus ditanggung bila kita tidak bijak menggunakannya.

Manfaat:

  1. tanaman transgenik bisa dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memiliki kandungan nutrisi atau komponen gizi yang lebih baik dari pada pangan sejenis yang non transgenik.

Contoh;

    1. tomat dan apel transgenik ternyata mengandung zat antioksidan dan anti penyakit degeneratif lebih tinggi dari tomat dan apel biasa.
    2. Kanola transgenik, menghasilkan minyak yang kandungan asam lemak tak jenuhnya lebih banyak dan baik. Dan ini lebih baik bagi kesehatan jantung.
  1. tanaman transgenik memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap penyakit, ketahanan yang lebih baik terhadap herbisida, daya simpan yang lebih lama ketimbang tanaman sejenis yang alami.

Dampak & Risiko:

 Dampak pangan transgenik pada kesehatan sangat bervariasi pada tiap-tiap orang. Sebagian mengeluh timbulnya alergi, kelainan darah, gangguan saraf, dan sebagian tidak mengeluhkan apa-apa.

Jadi siapa yang harus waspada dalam mengkonsumsi pangan transgenik?

  1. anak yang memiliki riwayat alergi.

Sangat mungkin bakat alerginya akan terpicu, entah kulit menjadi biduran, gatal-gatal, dan sesak nafas.

  1. anak dengan kebutuhan khusus.

Tidak semua makanan aman dikonsumsi untuk anak dengan gangguan otak, karena bisa memicu hiperaktif atau gangguan lainnya

  1. ibu hamil.

Penelitian pada tikus betina hamil yang diberi makan kedelai transgenik menunjukkan, tikus akan melahirkan anak yang terhambat pertumbuhanya dan sebagian lagi mati dalam beberapa minggu.

Adanya temuan ini sebaiknya membuat ibu hamil lebih hati-hati dengan cara tidak mengkonsumsi satu jenis makanan dalam jumlah banyak dan terus- menerus serta selalu memvariasikan menu dan bahan makanannya.

  1. orang yang sehat pun harus tetap wapada, karena sampai saat ini belum ada jaminan konsumsi produk pangan transgenik dalam jangka tidak menimbulkan dampak kesehatan meskipun misalnya produk tersebut telah lolos dari serangkaian uji keamanan.

 Berita tentang pangan transgenik yang diam-diam beredar di pasaran membuat hidup kita seperti di ladang ranjau. Mau makan ini salah, mau makan itu salah. Ranjau-ranjau itu antara lain MSG, pestisida, merkuri, boraks, formalin, dan makanan transgenik.

 Sungguh luar biasa pangan yang dihasilkan oleh teknologi rekayasa genetika ini. Buah apel kusam jadi merah dan ranum, jagung hambar dan gepeng jadi manis dan bulat, kentang pun bisa terasa halus dan renyah. Semua ini telah diupayakan melalui rekayasa teknologi pertanian yang bernama transgenik.

 Terkejutkah saudara kala mendengar bahwa banyak diantara penganan kita sehari-kari ternyata sudah tidak asli?

 Harus diakui, rekayasa genetika merupakan temuan luar biasa yang merupakan jawaban bagi masalah rawan pangan karena lahan pertanian yang semakin sempit, serangan hama, dan perubahan iklim yang tak terduga. Tapi nampaknya akan selalu ada efek samping dari setiap teknologi yang bekerja menentang proses alam.

 Memang buktinya masih sangat sedikit dan bukan tak mungkin efek samping itu tak bisa dikendalikan dimasa yang akan datang/ dalam jangka panjang dalam tubuh kita. Jadi kita harus berhati-hati.

 (Disarikan dari nakita No. 385/TH. VIII/19 Agustus 2006)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s