Laboratorium IPA,….Mati Suri?

Oleh: Milya Sari, S.Pd., M.Si

 

Benarkah Laboratorium IPA mati suri? mengapa?

Masalah ini berkaitan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 Tentang SNP

  • Pasal 1. Ayat 6. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
  • Pasal 1 ayat 7. Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
  • Pasal 1 ayat 8. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi

Kenapa Laboratorium Mati Suri?, Kendala-kendala dalam pelaksanaannya berkaitan dengan:

1)   Standar proses

Dalam Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007; pasal 1 ayat (1) bahwa standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.

Dijelaskan pada lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007, bahwa setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Untuk dapat memenuhi tuntutan pembelajaran dengan berpusat kepada peserta didik yakni pembelajaran yang mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar peserta didik, maka guru dituntut untuk dapat memilih strategi pembelajaran bervariasi sesuai tuntutan materi pembelajaran.

Pelaksanaan standar ini sangat berkaitan dengan guru. Nurfaisal (2012) menyatakan guru kesulitan dalam mengimplementasikan pemenuhan tuntutan standar proses dalam pembelajaran. Pembelajaran cendrung berjalan secara konvensional. Faktor yang mempengaruhi antara lain disebab media dan peralatan pembelajaran yang minim di sekolah, jumlah siswa yang terlalu besar dalam satu kelas, sehingga tidak mendukung diterapkannya pembelajaran yang aktif dan kreatif yang berpusat kepada siswa. Pendekatan pembelajaran yang terjadi lebih sering berpusat pada guru (teacher-centred approaches).

2)  Standar pendidik

Menurut PP RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, pendidik/guru adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan  dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang guru untuk memangku jabatan guru sebagai profesi. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki : Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional, dan Kompetensi Sosial.

Permasalahan guru di Indonesia sangat beragam, jika dikelompokkan berdasarkan empat kompetensi guru, maka permasalahan guru antara lain:

(1)      Kompetensi Profesional: kecakapan guru dalam menyiapkan perangkat pembelajaran; kecakapan guru menentukan dan menyajikan materi esensial; masih mengandalkan LKS yang dijual dipasaran, belum membuat bahan ajar sendiri; sains disajikan secara teoritis, belum menggunakan laboratorium secara optimal,

(2)      Kompetensi pedagogik : strategi yang digunakan kurang tepat; gaya mengajar yang kurang menyenangkan peserta didik; peran sebagai pendidik, pengjar dan pelatih belum optimal; tugas yang terlalu padat kepada peserta didik,

(3)      Kompetensi sosial/interpersonal: kurang terbuka terhadap kritikan teman sejawat;

(4)      Kompetensi personal/individu: afeksi guru belum bisa diteladani; kurang menerapkan disiplin bagi anak didik; komitmen, kinerja dan keiklasan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran masih kurang.

Faktor penyebab timbulnya permasalahan dalam pembelajaran dari aspek guru

  • Intake (kualitas input) dari calon guru dan kualitas dari LPTK penghasil guru
  • Kualitas buku  pelajaran  yang digunakan guru
  • Ijazah/tingkat pendidikan guru
  • Kebijakan pemerintah yang terhadap guru yakni: Peningkatan mutu guru tergantung proyek, Ujian Nasional Membelenggu Guru, dan Beban kerja guru  24 jam seminggu yang memberatkan
  • Rendahnya kemampuan/kinerja  guru dalam kegiatan laboratorium disebabkan oleh berbagai hal. (1) rendahnya skill guru, karena memang kurangnya kegiatan di laboratorium dari LPTK menghasil gurru tersebut, (2) penghargaan Kepala Sekolah yang kurang kepada guru sains yang ditandai dengan kurangnya insentif bagi guru sains yang mengadakan kegiatan praktikum dan penyamaan beban kerja antara guru IPA dengan IPS, (3)  pemahaman guru sains yang rendah terhadap urgensi laboratorium dalam pembelajaran IPA.

 

Tentu saja ini berpengaruh pada kemampuan mengajar, yang diukur dengan penguasaan materi pelajaran dan metodologi pengajaran. Selain itu, masih banyak guru yang mengajar di luar bidang keahliannya, yang secara teknis disebut mismatch. Contoh ekstrem, guru sejarah mengajar matematika dan sains, yang terutama banyak dijumpai di madrasah (MI, MTs, MA). Guru mismatch ini jelas tidak mempunyai kompetensi untuk mengajar mata pelajaran yang bukan bidang keahliannya sehingga dapat menurunkan mutu aktivitas pembelajaran.

Fenomena ini berkaitan dengan anggapan sebagian besar masyarakat terhadap profesi  guru. Tilaar (2002: 95-99) menyatakan ada beberapa anggapan yang salah atau kurang tepat terhadap profesi guru ini.

1)         Siapa yang tidak dapat berpikir dan berbuat, maka lebih baik dia memilih pekerjaan mengajar. Pendapat ini juga merupakan refleksi untuk “oknum” guru yang tidak kreatif, yang tidak membangkitkan kemampuan kreativitas peserta didik. Untuk itu mengembangkan kreativitas guru harus menjadi jiwa dari program pendidikan dan pelatihan guru.

2)         Profesi guru adalah profesi terbuka. Ini berasal dari anggapan bahwa untuk jadi guru tidak diperlukan syarat-syarat tertentu. Profesi guru bukanlah profesi sembarangan, tetapi harus memenuhi kriteria-kriteria profesional sehingga profesi guru bukan profesi terbuka.

3)         Siapa saja dapat dan boleh jadi guru. Ini berkaitan dengan anggapan siapa saja boleh jadi guru. Artinya siapa saja yang dapat berdiri di depan kelas tanpa mempunyai pengetahuan dan ketrampilan profesional boleh jadi guru. Ini yang menyebabkan masih ada guru yang mempunyai ijazah SMA non pendidikan, atau Menteri Pendidikan yang bukan berlatar pendidikan profesi guru.

3)       Standar sanana dan prasarana

Dinas pendidikan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan di daerahnya. Sebagai unsur pelaksana Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan tugas desentralisasi bidang pendidikan harus mempunyai perencanaan yang matang dalam pemenuhan fasilitas pembelajaran di sekolah.

Fasilitas Laboratorium , perpustakaan dan sarana prasarana lainnya. Kualitas sanpra dapat dilihat dari keberadaan Laboratorium dan Perpustakaan Sekolah.  Laboratorium ada tetapi terbatas, peralatan dan bahan tidak lengkap, sementara di dalam perpustakaan yang ada hanyalah buku yang digunakan guru dalam proses pembelajaran. Tidak ada pilihan buku yang ditawarkan kepada siswa yang dapat digunakan sebagai sumber belajar.  Kebijakan Pemerintah tentang pengadaan buku cenderung mengarahkan sekolah untuk memiliki buku seragam, tanpa variasi yang memadai.  Yulaelawati (2000), menyatakan rendahnya kinerja guru di bidang sains disebabkan karena faktor : Laboratorium belum memadai; ada laboratorium dengan peralatan mahal tetapi belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan kemampuan guru mengoperasikan alat; dan karena kurikulum lebih mengutamakan sain secara teoritis.

Rendahnya kemampuan/kinerja  guru dalam kegiatan laboratorium disebabkan oleh berbagai hal. (1) rendahnya skill guru, karena memang kurangnya kegiatan di laboratorium dari LPTK menghasil gurru tersebut, (2) penghargaan Kepala Sekolah yang kurang kepada guru sains yang ditandai dengan kurangnya insentif bagi guru sains yang mengadakan kegiatan praktikum dan penyamaan beban kerja antara guru IPA dengan IPS, (3)  pemahaman guru sains yang rendah terhadap urgensi laboratorium dalam pembelajaran IPA.

Untuk sarana fisik banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Oleh karena itu dinas pendidikan harus punya data yang akurat tentang fasilitas pembelajaran di sekolah. Namun keterbatasan anggaran selalu menjadi alasan klasik sebagai penyebab tidak terpenuhinya fasilitas pembelajaran di sekolah. UU Nomor 20 Th 2003, Pasal 11 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s