“Dahsyatnya Memahami”

PAHAMI-LAH

Pahamilah, artinya kita meminta seseorang untuk memahami bagaimana kondisi kita atau apa yang kita harapkan.

Pahamilah, artinya juga kita menuntut seseorang untuk bertindak seperti yang kita inginkan.

Dilain pihak, orang yang kita tuntut paham tersebut harus bisa memahami, mengapa ia dituntut seperti itu oleh orang yang minta dipahami.

Memahami ………….

Memahami, bukanlah kata-kata yang sulit untuk diucapkan, tetapi adalah suatu tindakan yang sulit untuk dilaksanakan.

Memahami seseorang membutuhkan suatu imajinasi tingkat tinggi.

Seseorang yang memahami perlu berimajinasi menjadi orang yang dipahami.

Jika ia sudah menjadi “orang yang dipahami”, ia menjadi mengerti apa kesulitan yang dialami atau apa kondisi yang sedang dialami oleh orang yang minta dipahami tadi.

Orang tua minta anaknya memahami kesibukannya, sehingga ia menuntut anaknnya patuh-patuh saja.

Seorang guru/dosen minta siswa/mahasiswanya memahami kesibukannya sehingga tidak selalu “mendesak dosen/gurunya” untuk memeriksa pekerjaannya secepat mungkin.

Seorang suami minta istrinya memahami kesibukannya, sehingga menuntut sang istri untuk melaksanakan semua yang ia inginkan.

Seorang anak menuntut orangtuannya untuk paham keinginannya, sehingga semua yang ia mau terkabul.

Seorang siswa/mahasiswa minta guru/dosennya paham dengan kesulitan yang dialaminya, sehingga guru/dosen bisa bertindak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Namun…..masalahnya adalah….. Apakah orang yang kita minta memahami tersebut bisa berimajinasi untuk berada pada posisi kita?

Apakah anak sudah bisa berimajinasi menjadi orang tua????

Selama ini yang terjadi adalah, …

kita sering menjadi penuntut yang baik tetapi lupa bagaimana menjadi pendengar yang baik. Jika bisa jadi pendengar yang baik kita bisa berimajinasi menjadi orang yang minta dipahami tersebut.

semua orang saling tuntut menuntut. Hal ini menjadi pemicu ketegangan. Semua merasa masalah dia lebih penting dari yang lain, jadi semua menuntut untuk dipahami.

Sehingga…..

Lahirlah pertengkaran, perseteruan, dan MasyaAllah ada yang berujung kepada perceraian.

Jadi yang terbaik adalah,

Jangan terlalu banyak menuntut…

Sebelum tuntutan dilayangkan…cobalah berada pada pihak yang akan kita tuntut, supaya kita bisa merasakan kondisi yang sedang dialami seseorang sehingga ia bertindak tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Mungkin yang dituntut untuk lebih paham adalah orang yang lebih besar.

Orang tua sebelum menuntut anaknya berbuat baik, sudahkah ia memahami mengapa anaknya belum baik? Apa yang sudah ia lakukan selama ini untuk membuat anaknya baik?

Jika itu ada, mungkin tidak ada lagi yang saling menyalahkan.

Karena semua sudah saling memahami kondisi masing-masing.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s