Buya

Saya baru saja selesai membaca dua  tulisan yang sangat menarik di situs kampus saya bekerja. Judul tulisan pertama adalah ” Buya dan Kapal IAIN”, tulisan  satunya dengan judul “diskusi tentang tulisan pak dekan-Buya dan KApal IAIN”. Tulisan yang kedua ini merupakan tanggapan dari tulisan yang pertama.

Menarik isinya, karena berhubungan dengan contoh teladan. Contoh teladan itu sangat idektik dengan pimpinan. Tulisan pertama menyoroti kenapa civitas IAIN merasa “segan” dengan sebutan buya. Sebetulnya tulisan ini panjang, tetapi saya lebih tertarik menanggapi topik tentang buya saja. Sedangkan topik tentang “kapal”  dibahasnya lain ali saja, karena membahas “kapal IAIN” sama seperti saya membahas kapalnya Indonesia dan saya rasa sudah banyak pakar yang lebih kompeten membahas “kapal” tersebut.

Menurut pandangan saya, kenapa civitas akademika di tempat saya bekerja kurang “pede” dengan sebutan buya? padahal sebutan tersebut mempuyai pengaruh yang sangat dalam di tengah masyarakat.

Buya adalah sosok yang sangat beribawa.  Mungkin kata beribawa tersebut kurang tepat, barangkali yang tepatnya adalah ” buya merupakan sosok yang penuh dengan keteladanan”. Setiap ucapannya selalu sama dengan tindakannya. Saya buka ahli bahasa Arab, tapi kalau dipahami secara awam kata buya yang berasal dari bahasa Arab tersebut artinya adalah “ayah”. Ayah bagi semua orang identik dengan sosok yang selalu menjadi teladan, sangat disegani karena kewibawaannya dan bukan ditakuti. Kalau disimpulkan buya adalah  manusia yang mempuyai akhlak yang baik.

Kalau kita bawa bahasan buya ini kepada tren pendidikan sekarang, maka sosok buya identik dengan sosok yang penuh dengan karakter yang baik.  Sejalan antara olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah rasa.

pengkategorian nilai didasarkan pada pertimbangan bahwa pada hakekatnya perilaku seseorang yang berkarakter merupakan perwujudan fungsi totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dan fungsi totalitas sosial-kultural dalam konteks interaksi (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyrakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam kontek totalitas proses psikologis dan sosial-kultural dapat dikelompokkan dalam: (1) olah hati (spiritual & emotional development); (2) olah pikir (intellectual development); (3) olah raga dan kinestetik (physical & kinesthetic development); dan (4) olah rasa dan  karsa (affective and  creativity development). Proses itu secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling melengkapi, serta masing-masingnya secara konseptual merupakan gugus nilai luhur yang di dalamnya terkandung sejumlah nilai sebagaimana dapat di lihat pada gambar di atas (Desain Induk Pendidikan Karakter, 2010: 8-9)

Mohon Maaf jika saya mengatakan kurang  percaya dirinya orang menyandang kata buya, karena secara pribadi mereka menyadari bahwa diri mereka jauh dari keteladanan dan akhlak yang baik tersebut.  Jadi, jika dipanggil buya oleh orang lain, rasanya menjadi beban, karena tingkahlaku yang terlihat dan diamati orang jauh dari contoh yang baik.

Sebetulnya sosok-sosok buya yang diharapkan itu ada dan banyak disekitar kita, cuma kurang diperhatikan atau menjadi perhatian karena semua orang sibuk dengan hiruk pikuk dunia yang selalu menggoda.  Atau buya-buya ini kurang publikasi? karena infotaiment hanya suka sama sosok yang penuh kontroversi???

Mudahah-mudahan ke depan sosok-sosok teladan ini muncul dan menjadi penyejuk dan penerang jalan semua orang…… Amiiiin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s