Literasi Sains

PERAN LITERASI SAINS DALAM EKONOMI GLOBAL

Oleh : Milya Sari, S.Pd. M.Si

Pengantar

Mengamati kilas balik perkembangan sains dan teknologi dari tahun 2005-2010, dalam UNESCO Science Report  2010 di Paris 10 November 2010, Kunci kejayaan suatu bangsa atau negara dalam era globalisasi terletak pada kualitas sumber daya manusia yang menguasai saintek. Menurut Prof de Solla Prince (disitir oleh Baiquni, 1997), ada hubungan kesebandingan antara jumlah pakar (saintis dan insinyur) yang melakukan riset dan pengembangan atau R &D di suatu negara dengan besar GNP (Produk Nasional Bruto) perkapita. Banyak negara-negara maju yang telah lama menginsafi perlunya sains dan teknologi dalam pengembangan industrinya dan bagi dukungan ekonominya, karena hubungan itu tampak amat jelas.

Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang masih mendominasi penelitian dan pengembangan (R&D) di bidang sians dan teknologi (saintek). Makin banyak negara-negara berpartissainssi dalam perkembangan saintek, sehingga terjadi pergeseran pengaruh global. China melebarkan jangkauan dengan penambahan jumlah penelitinya, dan sekarang menerbitkan artikel ilmiah yang lebih banyak dari Jepang. Kemajuan saintek memungkinkan negara-negara tersebut menghasilkan lebih banyak pengetahuan dan berpartissainssi secara lebih aktif dari pada sebelumnya dalam jaringan internasional dan kemitraan penelitian dengan negara-negara di Utara dan Selatan. Tren ini membina demokratisasi sains di seluruh dunia. Pada gilirannya, diplomasi sains menjadi instrumen kunci pembangunan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan dalam hubungan internasional.

Indonesia tidak termasuk negara yang diperhitungkan dalam perkembangan saintek tersebut. Ada apa dengan pendidikan saintek kita? Karena pendidikanlah yang sangat berperan untuk menciptakan SDM yang mengusai saintek tersebut.  Sukro Muhab, Direktur Pusat Peragaan SAINTEK (PP SAINTEK dalam Workshop Science Club Development di TMII Jakarta Kamis 14 Oktober 2010) (dalam La tansa, 2010), menyatakan tantangan dunia pendidikan sains di Indonesia di era globalisasi dalam upaya pengembangan saintek adalah kesenjangan kemajuan saintek dengan dunia pendidikan, prestasi pendidikan kita tertinggal dan isu global pendidikan.

Apa saja tantangan dalam pendidikan sains secara global? Dalam Unesco Science Report 2008, Peter J. Fensham (2008) menyatakan ada sebelas isu penting dalam kebijakan pendidikan saintek di seluruh dunia, yaitu:

  1. Issue a: science in schooling and its educational purposes (tujuan pendidikan sains di sekolah). Tujuan yang jelas memberikan gambaran konten, strategi pembelajaran, sistem evaluasi yang akan dilaksanakan.
  2. Issue b: access and equity in science education(Akses untuk pendidikan sains).Masih banyak negara di dunia yang belum memberikan kesempatan yang luas untuk warganya  dalam mendapatkan pendidikan termasuk pendidikan sains
  3. Issue c: interest in, and about science(Ketertarikan terhadap sains  rendah). Banyak siswa dan orang tua khawatir dengan karir yang bisa dijalani melalui pendidikan sains
  4. Issue d: how technology relatesto science in education(Bagaimana mengaitkan teknologi dengan pendidikan sains). Pendidikan sains harus lebih progresif dan menjadikan sains dekat dengan kehidupan nyata (kontekstual) dan bisa diaplikasikan
  5. Issue e: the nature of science and inquiry (Hakikat Sains dan  inkuiri). Pembelajaran sains di sekolah banyak mengajarkan ilmu sains, tetapi proses sains tidak pernah atau jarang diperlihatkan sehingga  terputus antara sains dengan kehidupan sehari-hari siswa
  6. Issue f: scientific literacy(Melek Sains). Tujuan utama pendidikan sains adalah menciptakan generasi muda yang melek sains
  7. Issue g: quality of learning in science(Kualitas pembelajaran sains). Perlu peningkatan kualitas pembelajaran sains terutama sistem asesmen
  8.  Issue h: the use of ict in scienceand technology education (Penggunaan ICT dalam Pembelajaran sains). ICT salah satu upaya agar pendidikan sains bersifat kontektual  tidak lagi bersifat abstrak.
  9. Issue i: development of relevant and effective assessment in science education(Mengembangkan asesmen yang tepat dan efektif untuk pendidikan sains). Perlu pengembangan instrumen asesmen yang bersifat autentik, dan bervariasi sehingga tidak hanya menilai kemampuan kognitif
  10. Issue j: science education in the primaryor elementary years(Pendidikan sains mulai dari sekolah dasar ). Pendidikan sains dimulai dari tahun tahun awal pendidikan di SD diyakini akan membangun ketertarikan siswa terhadap sains
  11. Issue k: professional development of science teachers(Meningkatkan profesionalisme guru). Profesionalisme guru dalam pembelajaran sains berpengaruh besar terhadap minat siswa pada sains.

Banyak isu  yang  harus diperhatikan dalam pendidikan sains. Dari sebelas isu yang dipaparkan, yang menjadi pembahasan pada tulisan ini adalah isu tentang literasi sains. Apa itu literasi sains? Bagaimana pelaksanaannya dalam pendidikan, dan apa perannya dalam pembangunan ekonomi suatu bangsa? Berikut penjelasan singkatnya.

Literasi sains

Literasi sains terbentuk dari 2 kata, yaitu literasi dan sains. Secara harfiah literasi berasal dari kata Literacy yang berarti melek huruf/gerakan pemberantasan buta huruf (Echols & Shadily, 1990). Sedangkan istilah sains berasal dari bahasa inggris Science yang berarti ilmu pengetahuan. Puskur (2006) mengatakan bahwa: “sains merupakan sekelompok pengetahuan tentang obyek dan fenomena alam yang diperoleh dari pemikiran dan penelitian para ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen menggunakan metode ilmiah”.

Menurut Programme for International Student Assessment (PISA, 2006), Literasi sains adalah kemampuan menggunakan pengetahuan sains untuk mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Literasi sains menurut National Science Education Standards (1998) adalah: Scientific literacy is knowledge and understanding of scientific concepts and processesrequired for personal decision making, particsainstion in civic and cultural affairs, and economic productivity. It also includes specific types of abilities.

Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD, 2003) literasi sains (scientific literacy) didefinisikan sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta untuk memahami alam semesta dan membuat keputusan dari perubahan yang terjadi karena aktivitas manusia. Literasi sains penting untuk dikuasai oleh siswa dalam kaitannya dengan bagaimana siswa dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat bergantung pada teknologi dan kemajuan serta perkembangan ilmu pengetahuan (Yusuf, 2003).

Literasi sains didefinisikan oleh AAAS (American Association for the Advancement of Science) dengan “Project 2061” sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan membantu membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alam. Literasi sains dianggap suatu hasil belajar kunci dalam pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan mempelajari sains atau tidak setelah itu. Berpikir ilmiah merupakan tuntutan warganegara, bukan hanya ilmuwan karena siswa dapat berpikir secara ilmiah tentang bukti yang akan mereka hadapi.

Literasi sains suatu pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan proses sains yang akan memungkinkan seseorang untuk membuat suatu keputusan dengan pengetahuan yang dimilikinya, serta turut terlibat dalam hal kenegaraan, budaya dan pertumbuhan ekonomi, termasuk di dalamnya kemampuan spesifik yang dimilikinya. Literasi sains dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. Jadi Literasi sains merupakan kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka mengerti serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang terjadi pada alam sebagai akibat manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Literasi Sains dalam pendidikan

Negara-negara maju sudah membangun literasi sains sejak lama, yang pelaksanaannya  terintegrasi dalam pembelajaran.  AAAS dengan “Project 2061” membangun literasi sains di Amerika Serikat melalui riset yang hasilnya digunakan untuk menetapkan “standar pendidikan sains Amerika”. Dibuatnya standar ini untuk mewujudkan literasi sains secara kongkrit dalam pendidikan Amerika, yang tujuan jangka panjangnya adalah kejayaan sains dan teknologi di masa depan. Hasil penelitian sains di Australia menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan sains di Australia adalah meningkatkan literasi (melek) sains (Anonime. 2006). Cina menerapkan strategi yang tak kalah penting: menjadikan “literasi (melek) sains” (science literacy) sebagai program negara. Cina telah memulainya lima tahun silam dengan mencanangkan Rencana 15 Tahun untuk meningkatkan jumlah penduduk yang melek sains. Orang literasi sains akan dapat berkonstribusi terhadap kesejahteraan baik dari aspek social maupun ekonomi. Jadi di negara maju, literasi sains merupakan prioritas utama dalam pendidikan sains  (Anonime,  2011).

Pengembangan evaluasi untuk mengetahui pencapaian literasi sains merujuk pada proses sains, yaitu proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan. PISA (2006) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu:

a)   Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains.

b)   Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk memperoleh bukti itu.

c)    Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya mendasari kesimpulan itu.

d)   Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia.

e)   Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah dipelajarinya.

Pengukuran terhadap pencapaian literasi sains berdasarkan standar  PISA  yakni proses sains, konten sains, dan konteks aplikasi sains. Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidenifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan. Termasuk di dalamnya mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak dapat dijawab oleh sains, mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains, serta mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti yang ada. Konten sains merujuk pada konsep-konsep kunci yang diperlukan untuk memahami fenomena alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui akitivitas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak secara khusus membatasi cakupan konten sains hanya pada pengetahuan yang menjadi materi kurikulum sains sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang dapat diperoleh melalui sumber-sumber lain.

Penilaian PISA diadakan setiap 3 tahun sekali terhitung sejak tahun 2000.  PISA ini mengikutkan siswa yang berusia 15 tahun, sekarang terdiri dari 65 negara, negara maju dan negara berkembang. Kriteria penilaian PISA ini mencakup kemampuan kognitif (knowledge) dan juga keahlian siswa di bidang Reading, Matematika dan Scientific Literacy (Kemampuan Sains/Literasi sains/melek sains). Literasi sains itu sendiri yang ditandai dengan kerja ilmiah, dan tiga dimensi besar literasi sains yang ditetapkan oleh PISA, yaitu konten sains, proses sainns, dan konteks sains.  Bagaimana kemampuan siswa Indonesia berdasarkan penilaian PISA? Dapat dilihat pada Tabel 1. Berikut ini.

Tabel 1. Prestasi Indonesia berdasarkan kriteria yang ditetapkan PISA

Peringkat Indonesia dari berbagai penilaian ini bisa mencerminkan bagaimana sistem pendidikan Indonesia yang sedang berjalan saat ini. Skill membaca, dari data terlihat  bahwa budaya baca kita begitu rendah. Budaya baca terkait dengan kemauan ‘memaksa diri’ untuk membeli buku dan kemauan meluangkan waktu untuk membacanya. Kemampuan matematika sangat penting karena kemampuan berhitung sangat menunjang disiplin ilmu manapun. Kemampuan matematika juga akan berpengaruh terhadap logika dan sistematika berpikir seseorang. Begitupun  literasi sains, kemampuan problem solving dalam sains, hal ini terkait juga dengan kemampuan riset , karena riset di dalamnya mencakup kemampuan pemecahan masalah (problem solving).

Kemampuan riset yang dimiliki oleh siswa akan sangat berpengaruh pada upaya melahirkan penemuan-penemuan baru yang datang dari dunia pendidikan.  Siswa-siswa Indonesia baru mampu mengingat pengetahuan ilmiah berdasarkan fakta sederhana. Mungkin guru-guru Indonesia masih belum bisa menerapkan metode problem solving dan keahlian menganalisis terhadap suatu pelajaran pada siswa serta budaya membaca dan menulis yang masih kurang ditanamkan pada siswa.

Apabila kita melihat fakta di lapangan; para siswa kita sangat pandai menghafal, tetapi kurang terampil dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini mungkin terkait dengan kecenderungan menggunakan hafalan sebagai wahana untuk menguasai ilmu pengetahuan, bukan kemampuan berpikir. Tampaknya pendidikan sains di Indonesia lebih menekankan pada abstract conceptualization dan kurang mengembangkan active experimentation, padahal seharusnya keduanya seimbang secara proporsional (Pusbuk, 2003).

Menurut Nur (1995) keterampilan proses merupakan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi atau bekerja sebagai ilmuwan (scientist). Antara penguasaan pengetahuan dengan keterampilan proses ada kaitan yang erat, konsep dikuasai melalui pengembangan keterampilan proses. Penekanan belajar konsep dengan pendekatan keterampilan proses dimaksudkan untuk tetap menekankan penguasaan konsep melalui pengembangan jenis keterampilan proses. Dengan demikian hakikat sains sebagai produk dan proses dapat dikembangkan dalam belajar sains menurut Kurikulum.

Selanjutnya Nur (1995) menekankan bahwa cara penyajian produk saja dalam buku pelajaran sains tidak cukup. Penyajian materi subyek dengan PKP (Pendekatan Keterampilan Proses) tidak langsung memberikan jawaban atau kesimpulan di dalam buku pelajaran. Siswa harus membangun sendiri kemampuan berpikir, siswa harus menemukan sendiri dan metransformasikan sendiri informasi kompleks, mengecek sendiri informasi baru dengan aturan-aturannya.

Carin dan Sund (dalam Puskur-Depdiknas, 2006) mendefinisikan sains sebagai pengetahuan yang sistematis atau tersusun secara teratur, berlaku umum, dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen. Aktivitas dalam sains selalu berhubungan dengan percobaan-percobaan yang membutuhkan keterampilan dan kerajinan. Secara sederhana, sains dapat juga didefinisikan sebagai apa yang dilakukan oleh para ahli sains. Dengan demikian, sains bukan hanya kumpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi menyangkut cara kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah.

Ilmuwan sains selalu tertarik dan memperhatikan peristiwa alam, selalu ingin mengetahui apa, bagaimana, dan mengapa tentang suatu gejala alam dan hubungan kausalnya. Keterampilan proses perlu dikembangkan melalui pengalaman langsung sebagai pengalaman belajar dan disadari ketika kegiatannya sedang berlangsung. Keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual dan sosial sehingga pembelajaran sains (Biologi) akan lebih bermakna. Dengan demikian belajar dengan pendekatan keterampilan proses memungkinkan siswa mempelajari bahkan menemukan konsep yang menjadi tujuan belajar sains dan sekaligus mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar sains, sikap ilmiah dan sikap kritis.

Peran literasi sains dalam pembangunan ekonomi

Pendidikan adalah kunci penting dalam pembinaan SDM. Dalam era globalisasi dengan aliran SDM yang makin bebas, profesionalitas akan makin dihargai. Negara yang menguasai sainstek akan mempunyai daya tawar yang tinggi di banding negara lain. Seharusnya kita belajar dari India dan Jepang. Helianti (2005) menjelaskan India secara selintas mirip dengan Indonesia. Negeri ini masuk lima besar negeri berpenduduk terpadat di dunia, satu peringkat di atas Indonesia. Mempunyai beragam etnis, agama, dan bahasa. Juga ada konflik antar etnis dan agama yang sekarang pun Indonesia miliki. Tapi, persamaan yang paling mudah terlihat adalah, keduanya adalah negara berkembang, di mana jumlah penduduk prasejahtera masih mendominasi statistik penduduk. Namun, jika kita mau cermati, India ternyata jauh lebih unggul dalam bidang sains dan teknologi. Percobaan kecil bisa kita lakukan. Jika kita browsing ke site data base journal-journal untuk life science, maka akan kita jumpai nama-nama dan afiliasi India sangat jauh lebih banyak dari pada nama-nama Indonesia atau mereka yang berafiliasi Indonesia. Ini jika kita menjadikan jumlah terbitan paper ilmiah sebagai salah satu indikator kemajuan saintek, khususnya life science dan bioteknologi. Kesadaran akan pentingnya saintek bagi daya saing negara di masa depan telah tumbuh sejak dini.

Nampaknya, usaha India untuk menjadikan biotek sebagai salah satu sumber income negara mulai membuahkan hasil. Menurut data dari Biotech Consortium India Limited (BCIL, 2001), sedikitnya ada 176 perusahaan swasta domestik yang mulai diperhitungkan dalam skala bisnis besar yang berbasis bioteknologi. Empat puluh persen di antaranya bergerak dalam bidang agrikultur khususnya sebagai penghasil biopestisida, benih, dan kultur jaringan, 25% bergerak dalam bidang kesehatan dan obat-obatan, sisanya bergerak dalam bidang bioteknologi lingkungan. Pasaran industri juga meningkat dari 1,5 milyar rupee (sekitar 300 milyar rupiah) menjadi 2,5 milyar rupee (sekitar 500 milyar rupiah) antara tahun 1999 sampai 2002.

Di Jepang, (Helianti, 2001) menjelaskan,  implementasi konsep sosiolisasi saintek tampaknya telah begitu lekat dalam infra struktur masyarakat Jepang. Saintek telah menjadi budaya yang telah menginternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Media massa, industri, lembaga pendidikan (dari SD sampai universitas), dan lembaga penelitian pemerintah membuat kerja sama sinergis tanpa gembar-gembor dalam sosialisasi saintek. Pendidikan saintek sejak dini lewat pendidikan formal dari SD, SMP, SMA sampai universitas. Semangat untuk meneliti telah mulai ditanamkan sejak SD. Karena masyarakat yang mengerti dan sadar akan pentingnya saintek tidak dapat dihasilkan dalam waktu instant, tetapi membutuhkan waktu bertahap serta usaha para peneliti untuk memasyarakatkan sendiri sainstek. Budaya iptek Jepang adalah cerminan dari perkembangan iptek Jepang sendiri yang maju begitu pesat sejak kekalahannya dalam perang dunia kedua.

Sumber Bacaan:

Jika ingin memakai tulisan ini, silahkan cantumkan blog ini sebagai rujukannya . terima kasih

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s