PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN SAINS DITINJAU DARI ASPEK GURU

Abstract

Science Education in Indonesia is still poor. There are many components involved in science education such as the teacher. The myriad flaws of the teacher’s factor must be addressed: the intake of low teacher, teachers’ commitment, performance, the level of teacher education, etc. These are caused by low performance of the principal and the Superintendent and the policies of the Government.  To overcome these problems, then, it is necessary to improve the following program including training and tutorial programs, etc.  It is expected that through the efforts of increasing teacher’s quality will improve students’ science literacy.

ini adalah tulisan yang diterbitkan di http://journal.tarbiyahiainib.ac.id. Vol 20, No 1 (2013). jika ada yang ingin membacanya silahkan kunjungi e journal ini. terima kasih.

USAHA MENGATASI PROBLEMATIKA PENDIDIKAN SAINS DI SEKOLAH DAN PERGURUAN TINGGI

Abstract

Science holds an important role in the age of globalization. Countries that ruled the science will dominate the economy. Indonesia including State lagging in science and technological literacy. A lot of things that cause less maximum learning science during this time. Eleven science education policy issues from Unesco in 2008, all the problems of the science education in Indonesia. The largest factor is the teacher, then the policy leadership and Government. Attempts to overcome this of course relates to the improvement of the quality of teachers and better government policy prioritizing science education

ini adalah tulisan saya yang diterbitkan di  http://journal.tarbiyahiainib.ac.id.  Vol 19, No 1 (2012).  jika ada yang berminat membaca silahkan di unduh pada e journal tersebut. terima kasih.

 

Aplikasi Multimedia

Aplikasi Multimedia sebagai Inovasi dalam
Pembelajaran Ilmu Kealaman Dasar (IAD)

Oleh : Milya Sari*
Abstrak

Bergesernya paradigma dalam bidang pengajaran dari teacher-oriented menuju student-oriented secara tidak langsung menuntut tersedianya fasilitas belajar mandiri yang menarik bagi mahasiswa. Pesatnya perkembangan teknologi informasi multimedia sekarang ini membawa perkembangan pada pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran. Penggunaan berbagai media pembelajaran diharapkan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, efisien dan efektif.

Baca lebih lanjut

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia

KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI)
LEVEL 2 (SMU/SMK)

Oleh : Milya Sari, S.Pd.M.Si

Sangat mudah dijumpai seorang bergelar Sarjana mendaftarkan kerja dengan menggunakan ijasah SMA/SMK/MA nya. Secara horisontal, banyak juga dijumpai sarjana pertanian bekerja sebagai wartawan, sarjana teknik bekerja sebagai tenaga administrasi dan masih banyak lagi contoh ketidaksesuaian yang lain. Mungkin istilah link and match yang dipopulerkan oleh Mendikbud saat itu, Wardiman Djojonegoro, lebih mudah untuk memberi gambaran atas masalah klasik ini. Ketidaksesuaian di atas muncul, karena kaburnya antara kualifikasi dan kompetensi lulusan. Idealnya seseorang dengan kualifikasi sarjana memiliki kompetensi untuk melakukan sejumlah daftar pekerjaan. Namun pada kenyataannya, tidak banyak yang berani menjamin bahwa lulusan pendidikan bidang tertentu bisa mengerjakan apa atau sarjana bidang tertentu bisa menyelesaikan masalah apa. Dalam konteks problem kompetensi dan kualifikasi inilah perlu Peraturan Presiden tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang dalam literatur global disebut dengan National Qualification Framework (NQF) (Sayuti, 2011).

Baca lebih lanjut

Hakekat Pendidikan Sains/IPA

HAKEKAT PEMBELAJARAN SAINS/IPA (ILMU PENGETAHUAN ALAM)
Oleh : Milya Sari, S.Pd. M.Si

IPA didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya. Carin dan Sund (1993) dalam Puskur-Depdiknas (2006) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”.

Baca lebih lanjut

Literasi Sains

PERAN LITERASI SAINS DALAM EKONOMI GLOBAL

Oleh : Milya Sari, S.Pd. M.Si

Pengantar

Mengamati kilas balik perkembangan sains dan teknologi dari tahun 2005-2010, dalam UNESCO Science Report  2010 di Paris 10 November 2010, Kunci kejayaan suatu bangsa atau negara dalam era globalisasi terletak pada kualitas sumber daya manusia yang menguasai saintek. Menurut Prof de Solla Prince (disitir oleh Baiquni, 1997), ada hubungan kesebandingan antara jumlah pakar (saintis dan insinyur) yang melakukan riset dan pengembangan atau R &D di suatu negara dengan besar GNP (Produk Nasional Bruto) perkapita. Banyak negara-negara maju yang telah lama menginsafi perlunya sains dan teknologi dalam pengembangan industrinya dan bagi dukungan ekonominya, karena hubungan itu tampak amat jelas.

Baca lebih lanjut